Disambut Meriah, Prabowo Sindir Sherly Tjoanda Seperti Menang Piala Citra
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo melontarkan pujian bernada humor kepada Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda saat sambutan publik di Penas Petani dan Nelayan.
- Momen tersebut menjadi sorotan karena menunjukkan kedekatan Prabowo dengan kepala daerah yang baru menjabat sejak Februari 2025.
- Dalam pidato yang sama, Prabowo kembali mengkritik pakar yang mendukung impor beras, menegaskan komitmennya pada kesejahteraan petani.

Presiden Prabowo Subianto menyapa Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda dengan candaan "seperti menang Piala Citra" saat puncak Pekan Nasional (Penas) Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo, Rabu (24/6). Sorak sorai ribuan petani dan nelayan yang memenuhi arena langsung meledak begitu nama Sherly disebut, membuat suasana sidang pleno berubah menjadi ajang penghormatan spontan.
Momen itu terjadi ketika Prabowo memanggil satu per satu kepala daerah yang hadir. Begitu namanya diumumkan, Sherly berdiri dengan senyum lebar, sementara hadirin bersorak. Prabowo yang semula serius pun tersenyum dan berseloroh, "Seperti menang Piala Citra." Piala Citra sendiri merupakan penghargaan tertinggi perfilman Indonesia, sehingga analogi itu menimbulkan tawa dan tepuk tangan riuh.
Sherly Tjoanda resmi menjabat sebagai Gubernur Maluku Utara pada 20 Februari 2025 setelah memenangkan Pilkada 2024 bersama wakilnya Sarbin Sehe. Pasangan ini diusung koalisi Partai Demokrat, PAN, PPP, PKB, dan Gelora, mengalahkan tiga kandidat lainnya. Kehadirannya di Penas kali ini menjadi salah satu agenda pertamanya di tingkat nasional sebagai kepala daerah.
Di luar momen hangat tersebut, pidato Prabowo juga menyisipkan kritik tajam terhadap sejumlah pakar yang dianggap tidak berpihak pada petani. Ia menyinggung kebijakan impor beras yang dinilai merugikan petani lokal. "Banyak pakar-pakar yang pintar-pintar, sampai sekarang masih menganggap dirinya pintar mengatakan untuk apa kita membela petani Indonesia," ujarnya dengan nada tinggi.
Prabowo lantas menceritakan pengalamannya saat menjabat Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Ia pernah menemui Menko Perekonomian Aburizal Bakrie untuk menolak rencana impor beras, terutama saat musim panen. "Apalagi impor beras pada saat petani mau panen, hancur harga untuk petani. Petani kita tidak bisa untung, tidak kembali modal," katanya. Namun, usulannya saat itu ditolak oleh salah satu penasihat Aburizal yang justru mendorong impor.
Pernyataan ini menggarisbawahi konsistensi Prabowo dalam isu pertanian, yang juga menjadi salah satu program prioritas pemerintahannya. Dengan adanya Penas ini, ia ingin memastikan bahwa suara petani dan nelayan didengar, bukan justru dikalahkan oleh kepentingan impor.
Ke depan, apakah kritik Prabowo terhadap pakar impor akan berdampak pada perubahan kebijakan perdagangan beras? Ataukah ini hanya retorika politik yang akrab di telinga petani? Yang jelas, momen Sherly Tjoanda menjadi pengingat bahwa di tengah seriusnya agenda nasional, sentuhan personal seorang presiden bisa menciptakan kehangatan politik yang langka.



