Rutin Cek Tekanan Darah di Rumah Turunkan Risiko Serangan Jantung dan Stroke
Baca dalam 60 detik
- Studi di Skotlandia terhadap 450.000 pasien hipertensi menunjukkan pemantauan tekanan darah di rumah secara digital mengurangi kejadian kardiovaskular hingga rawat inap dan kematian.
- Program telemonitoring Connect Me BP membantu pasien menurunkan tekanan darah dalam 3 bulan pertama dan mempertahankannya setidaknya setahun, dengan efek positif pada keterlibatan pasien.
- Temuan ini mendorong perluasan akses teknologi telemonitoring, terutama di daerah tertinggal yang memiliki risiko hipertensi lebih tinggi.

Pemantauan tekanan darah secara mandiri di rumah menggunakan sistem digital terbukti menurunkan risiko komplikasi kardiovaskular serius, seperti serangan jantung dan stroke, demikian hasil studi berskala besar yang dipublikasikan di European Heart Journal โ Digital Health. Temuan ini memberikan bukti kuat bahwa keterlibatan aktif pasien dalam memantau kondisinya dapat menyelamatkan nyawa.
Peneliti dari Edinburgh Napier University dan University of Edinburgh menganalisis catatan kesehatan hampir 450.000 pasien hipertensi di Skotlandia antara 2019 dan 2022. Sekitar 9.500 di antaranya menggunakan program telemonitoring bernama Connect Me BP, yang memungkinkan pengukuran tekanan darah di rumah dan secara otomatis membagikan hasilnya ke tenaga kesehatan. Sistem ini juga dilengkapi pengingat untuk menjaga kepatuhan pemantauan.
Hasilnya, kelompok yang menggunakan telemonitoring mengalami penurunan tekanan darah signifikan dalam tiga bulan pertama dan perbaikan tersebut bertahan minimal satu tahun. Lebih penting lagi, mereka memiliki angka kejadian kardiovaskular, rawat inap, dan kematian yang lebih rendah dibandingkan pasien yang hanya menerima perawatan standar. Menurut Kanwar Kelley, MD, JD, seorang dokter yang tidak terlibat dalam studi, pemantauan di rumah tidak sekadar mengumpulkan data, tetapi benar-benar memperbaiki luaran klinis.
Kelley menekankan bahwa tindakan mengukur dan mencatat tekanan darah di antara kunjungan dokter membuat pasien lebih terlibat dan memiliki rasa kepemilikan terhadap perbaikan tekanan darahnya. "Lebih banyak data memungkinkan dokter menyesuaikan obat dengan lebih baik dan mengelola tren, bukan hanya mengandalkan bacaan saat janji temu," ujarnya. Sistem pengingat otomatis juga membantu kepatuhan terhadap jadwal pengobatan dan pemantauan.
Meski hasilnya menjanjikan, studi ini bersifat observasional sehingga tidak bisa membuktikan hubungan sebab-akibat langsung. Peserta yang memilih telemonitoring cenderung lebih muda, membutuhkan lebih sedikit obat, dan lebih jarang tinggal di daerah kurang mampu. Faktor lain yang tidak terukur mungkin memengaruhi hasil. Peneliti menekankan perlunya riset lanjutan untuk memastikan manfaat pada populasi yang lebih luas dan berisiko tinggi.
Di Indonesia, di mana prevalensi hipertensi mencapai 34,1% berdasarkan Riskesdas 2018 dan masih banyak kasus tidak terdiagnosis, temuan ini relevan. Teknologi telemonitoring dapat menjadi solusi untuk meningkatkan deteksi dini dan pengelolaan hipertensi, terutama di daerah dengan akses terbatas ke fasilitas kesehatan. Namun, tantangan seperti literasi digital, ketersediaan alat yang terverifikasi secara klinis, dan biaya perlu diatasi. Kelley menyarankan pasien untuk menggunakan monitor yang tervalidasi, mengukur pada waktu yang sama setiap hari, dan duduk tenang beberapa menit sebelum pengukuran.
Ke depannya, integrasi telemonitoring ke dalam sistem layanan kesehatan primer Indonesia bisa menjadi langkah strategis. Pertanyaannya, seberapa cepat pemerintah dan penyedia layanan kesehatan dapat mengadopsi teknologi ini secara luas, terutama untuk menjangkau masyarakat berpenghasilan rendah yang paling membutuhkan?



