Guru Keringkan Pakaian di Ruang Sekolah, Picu Kebakaran di Tokyo
Baca dalam 60 detik
- Seorang guru di Tokyo mengakui menggunakan alat sirkulasi udara untuk mengeringkan pakaian di ruang penyimpanan yang diduga menjadi titik awal kebakaran sekolah.
- Polisi menemukan serat kain pada pemanas listrik dan tanda korsleting, namun belum memastikan hubungan langsung dengan aktivitas guru tersebut.
- Kebakaran yang melukai 11 orang, termasuk guru dan murid, menyoroti risiko keselamatan di sekolah Jepang yang jarang terjadi.

Seorang guru perempuan berusia 40-an di Tokyo mengakui telah menggunakan alat sirkulasi udara untuk mengeringkan pakaian di ruang penyimpanan yang diduga menjadi titik awal kebakaran di sebuah sekolah dasar, pekan lalu. Pengakuan ini disampaikan kepada penyidik Kepolisian Metropolitan Tokyo pada Rabu (24/6), saat penyelidikan masih berlangsung untuk menentukan penyebab pasti kebakaran yang melukai 11 orang tersebut.
Kebakaran terjadi pada Jumat pagi sekitar pukul 11.00 waktu setempat di SD di Kita Ward, Tokyo. Saat itu, 24 siswa kelas 5 sedang mengikuti pelajaran di ruang musik yang bersebelahan dengan ruang penyimpanan tempat api pertama kali terlihat. Guru yang bersangkutan tengah mengajar di kelas tersebut. Api baru berhasil dipadamkan sekitar tiga jam kemudian.
Polisi menemukan serpihan serat kain yang menempel pada pemanas listrik di ruang penyimpanan. Selain itu, ditemukan pula pakaian dan gantungan baju yang terbakar. Namun, belum jelas apakah penggunaan alat sirkulasi udara oleh guru tersebut berkaitan langsung dengan pemanas listrik atau korsleting yang terdeteksi. Polisi menyatakan ada tanda korsleting pada kabel daya pemanas, tetapi tidak ditemukan bukti kebocoran arus listrik.
Guru tersebut dilaporkan menyesali perbuatannya. Kasus ini menjadi perhatian publik di Jepang, mengingat standar keselamatan sekolah yang ketat. Insiden serupa jarang terjadi, namun mengingatkan pentingnya pengawasan terhadap penggunaan peralatan listrik di lingkungan sekolah. Di Indonesia, kasus kebakaran akibat korsleting listrik di sekolah juga pernah terjadi, meski jarang melibatkan aktivitas mengeringkan pakaian di ruang kelas. Hal ini menjadi pengingat bagi pihak sekolah untuk mematuhi prosedur keselamatan kebakaran.
Penyelidikan masih berlanjut untuk memastikan apakah kelalaian guru menjadi faktor utama. Polisi juga akan memeriksa apakah ada pelanggaran protokol keselamatan yang lebih luas. Ke depan, kasus ini berpotensi mendorong evaluasi ulang terhadap kebijakan penggunaan alat listrik di sekolah-sekolah Jepang, terutama di ruang penyimpanan dan area rawan lainnya.



