Mental Sabalenka Kembali Diuji di Wimbledon: Bisakah Petenis Nomor Satu Bertahan?
Baca dalam 60 detik
- Aryna Sabalenka mengalami keruntuhan mental di Prancis Terbuka 2026, kalah dari petenis non-unggulan setelah nyaris memenangi pertandingan.
- Tekanan psikologis menjadi sorotan utama jelang Wimbledon, di mana kecepatan lapangan rumput mempercepat momen kritis dalam pertandingan.
- Pelatih dan psikolog olahraga menilai ambisi besar Sabalenka kerap mengaburkan pengambilan keputusan, namun ia tetap difavoritkan meski kepercayaan diri mulai goyah.

Aryna Sabalenka, petenis nomor satu dunia asal Belarusia, kembali menghadapi sorotan tajam menjelang Wimbledon 2026 setelah kegagalan dramatis di Prancis Terbuka bulan lalu. Dua poin dari kemenangan, ia justru tumbang melawan Diana Shnaider, petenis Rusia yang berada di luar 100 besar, dan kemudian mengaku jatuh ke dalam "lubang gelap" secara mental. Kini, turnamen paling bergengsi di lapangan rumput itu menjadi ujian baru bagi ketahanan psikologisnya.
Kekalahan di Roland Garros bukan yang pertama bagi Sabalenka. Setahun sebelumnya, ia juga kehilangan gelar juara di turnamen yang sama setelah unggul jauh. Pola ini memicu pertanyaan tentang keputusannya pada 2022 untuk berhenti berkonsultasi dengan psikolog, meskipun ia kemudian kembali menjalin komunikasi dengan ahlinya. "Saya menelepon psikolog saya... rasanya saya perlu bicara tentang semua yang saya alami dalam beberapa tahun terakhir," ujar Sabalenka kepada Bounces, situs tenis, saat berlaga di semifinal Berlin. "Itu sangat membantu. Saya mengubah banyak hal dan mencoba hal-hal baru sekarang."
Lapangan rumput Wimbledon menghadirkan tantangan tersendiri. Kecepatan permainan yang tinggi membuat tekanan berlangsung lebih cepat dan keputusan harus diambil dalam sekejap. Sabalenka memang memiliki pukulan keras yang menjadi andalan, namun kerentanannya saat menghadapi tekanan menjadi sorotan. Gustavo Granitto, pelatih bersertifikasi Federasi Tenis Internasional, menilai bahwa dorongan kompetitif Sabalenka kerap mengaburkan penilaiannya. "Ambisi besarnya untuk menang, yang membuatnya nomor satu, kadang mengalihkan fokus dan pertimbangannya saat mengambil keputusan di lapangan," kata Granitto kepada Reuters.
Jeff Greenwald, mantan petenis yang kini menjadi psikolog olahraga, menambahkan bahwa intensitas emosional Sabalenka sering membuatnya hanya memiliki satu gigi kecepatan. "Ini bisa menjadi lereng licin di level tertinggi. Jika kesalahan mulai menumpuk, sulit untuk mengendalikan keadaan," jelas Greenwald. Namun ia menekankan bahwa ini bukan kemunduran permanen. "Dia telah meraih banyak kesuksesan dalam beberapa tahun terakhir. Kebangkitannya luar biasa, dan ketika dia memfokuskan intensitasnya ke arah yang tepat, dia cenderung berhasil."
Komentator ESPN dan mantan petenis top dunia, Mary Joe Fernandez, mengakui kekhawatirannya. "Permainannya cocok untuk semua permukaan, termasuk rumput, dengan kekuatan pukulannya. Dia punya servis dan pengembalian yang mematikan. Tapi apa yang terjadi di Paris, dia hancur. Kondisi lagi-lagi mengalahkannya. Mari lihat bagaimana dia bangkit. Menurut saya dia masih favorit juara Wimbledon, tapi tidak sejelas sebulan lalu," ujar Fernandez.
Bagi penggemar tenis Indonesia, performa Sabalenka menjadi tontonan menarik karena ia adalah salah satu dari sedikit petenis papan atas yang bermain dengan gaya agresif penuh risiko. Kegagalannya mengelola tekanan mengingatkan pada tantangan mental yang dihadapi atlet-atlet Indonesia di kancah internasional, terutama dalam momen-momen krusial. Wimbledon tahun ini akan menjadi barometer apakah Sabalenka mampu mengatasi "setan" mentalnya atau justru kembali terperosok. Akankah ia akhirnya menemukan keseimbangan antara ambisi dan ketenangan?



