Gelombang Panas Ekstrem Landa Vietnam, Suhu Tembus 40 Derajat Celsius
Baca dalam 60 detik
- Suhu di Vietnam utara dan tengah diprediksi mencapai 40 derajat Celsius akibat kombinasi tekanan rendah barat dan angin Foehn.
- Pusat Hidrometeorologi Nasional Vietnam memperingatkan gelombang panas ini akan berlangsung hingga akhir Juli dengan puncak di pertengahan pekan.
- Risiko kebakaran hutan dan gangguan kesehatan meningkat, warga diimbau tidak beraktivitas di luar ruangan pada pukul 10.00-16.00.

Gelombang panas ekstrem melanda Vietnam bagian utara dan tengah pada pekan ini, dengan suhu di sejumlah wilayah diprediksi menembus 40 derajat Celsius. Fenomena ini dipicu oleh sistem tekanan rendah dari barat yang berpadu dengan angin Foehn, mendorong suhu melonjak tajam di berbagai daerah.
Menurut Pusat Hidrometeorologi Nasional Vietnam (NCHMF), gelombang panas kali ini diperkirakan mencapai puncaknya pada pertengahan pekan. Di kawasan utara, suhu siang hari diprediksi berkisar antara 37 hingga 39 derajat Celsius, sementara beberapa daerah pegunungan dan perkotaan bisa mencatat suhu di atas 39 derajat. Hung Yen, Ninh Binh, dan Hanoi menjadi wilayah yang paling terdampak.
Kondisi yang lebih ekstrem terjadi di kawasan tengah. Dari Provinsi Thanh Hoa hingga Kota Hue, suhu maksimum diperkirakan mencapai 38-40 derajat Celsius. Bahkan, beberapa daerah pegunungan di bagian barat kawasan tengah bisa mencatat suhu di atas 40 derajat. Gelombang panas ini diprediksi berlangsung hingga Kamis.
Nguyen Duc Hoa, Wakil Kepala Kantor Prakiraan Iklim NCHMF, mengungkapkan bahwa suhu rata-rata nasional pada Juni 2026 lebih tinggi 0,5-1 derajat Celsius dibandingkan rata-rata jangka panjang. Beberapa lokasi bahkan mencatat anomali yang lebih besar. Ia menambahkan, gelombang panas tambahan masih mungkin terjadi di kawasan utara dan tengah hingga akhir bulan.
Dalam konferensi prakiraan meteorologi dan peringatan dini pada Selasa pagi, Wakil Direktur Hoang Phuc Lam menyatakan bahwa gelombang panas diperkirakan berlanjut dari Juli hingga September. Jumlah hari panas diprediksi lebih tinggi dari rata-rata jangka panjang dan periode yang sama tahun 2025 di kawasan utara, wilayah Thanh Hoa-Hue, dan provinsi pesisir selatan-tengah. Suhu dari sekarang hingga akhir tahun diperkirakan tetap 0,5-1,5 derajat Celsius di atas rata-rata.
Pihak berwenang memperingatkan bahwa panas berkepanjangan dan kelembaban rendah dapat meningkatkan risiko kebakaran dan ledakan di kawasan pemukiman, seiring melonjaknya permintaan listrik. Risiko kebakaran hutan juga diperkirakan meningkat. Para ahli kesehatan mengingatkan bahwa paparan suhu tinggi dalam waktu lama dapat menyebabkan dehidrasi dan penyakit terkait panas lainnya.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan dampak perubahan iklim yang kian nyata. Meskipun Indonesia tidak mengalami pola cuaca yang persis sama, kenaikan suhu ekstrem di kawasan Asia Tenggara dapat mempengaruhi pola musim dan meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi di dalam negeri. Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gelombang panas serupa, terutama di daerah perkotaan dengan efek pulau panas.
Warga Vietnam diimbau untuk menghindari aktivitas di luar ruangan pada jam-jam terpanas, yaitu pukul 10.00 hingga 16.00. Jika harus keluar, disarankan mengenakan pakaian pelindung seperti topi, kacamata hitam, dan masker untuk mengurangi paparan langsung sinar matahari. Pekerja di lingkungan panas dianjurkan minum setidaknya 1,5-2 liter air per hari untuk mencegah dehidrasi dan kehilangan elektrolit. Para ahli memperingatkan bahwa kegagalan mengganti cairan dan elektrolit tepat waktu dapat mengurangi sirkulasi darah dan menyebabkan kolaps kardiovaskular atau ketidakseimbangan elektrolit yang serius.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana kesiapan negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dalam menghadapi peningkatan frekuensi dan intensitas gelombang panas akibat perubahan iklim. Apakah sistem peringatan dini dan infrastruktur kesehatan masyarakat sudah cukup adaptif?



