Serangan Beruang Meningkat, Pinggiran Tokyo Siapkan 700 Semprotan Anti-Beruang untuk Sekolah
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Hachioji menganggarkan 15 juta yen untuk membeli semprotan anti-beruang, pagar listrik portabel, dan perangkat suara bernada tinggi bagi sekolah serta organisasi masyarakat.
- Jepang mencatat rekor 13 kematian akibat serangan beruang pada tahun fiskal lalu, dengan lima kematian tambahan dan 20 luka-luka dalam dua bulan pertama tahun ini.
- Langkah ini merupakan respons terhadap lonjakan penampakan beruang yang mencapai 50.000 kasus secara nasional, didorong oleh perluasan habitat dan kelangkaan sumber makanan alami.

Sebuah kota di pinggiran Tokyo, Hachioji, mengumumkan rencana pengeluaran darurat senilai 15 juta yen (sekitar Rp1,5 miliar) untuk membeli 700 semprotan anti-beruang yang akan didistribusikan ke sekolah dan organisasi masyarakat. Langkah ini diambil setelah penampakan beruang hitam di kawasan pemukiman meningkat drastis, memicu kekhawatiran akan keselamatan warga, terutama anak-anak.
Menurut juru bicara pemerintah setempat, Ryosuke Sato, dana tersebut juga akan digunakan untuk membeli pagar listrik portabel dan perangkat yang mengeluarkan suara bernada tinggi guna mengusir hewan liar. "Kami sedang menyusun manual penanganan beruang jika mereka muncul di jalan-jalan kami, bekerja sama dengan polisi dan pemburu," ujar Sato kepada AFP.
Keputusan ini muncul di tengah tren mengkhawatirkan: Kementerian Lingkungan Jepang mencatat 13 orang tewas akibat serangan beruang pada tahun fiskal laluโrekor tertinggi sepanjang sejarah. Pada periode April hingga Mei tahun ini saja, lima orang tewas dan 20 lainnya luka-luka. Secara nasional, penampakan beruang mencapai lebih dari 50.000 kasus pada tahun fiskal yang berakhir Maret lalu, lebih dari dua kali lipat rekor sebelumnya.
Hachioji, yang terletak di tepi barat Tokyo, dikenal dengan jalur pendakiannya yang populer di akhir pekan. Sejak April, setidaknya 11 penampakan atau tanda keberadaan beruang telah dilaporkan. Kamera gerak bahkan merekam seekor beruang hitam berkeliaran di sekitar rumah warga pada 29 April. Situasi serupa terjadi di kota lain: di Utsunomiya, utara Tokyo, semua sekolah ditutup awal bulan ini setelah seekor beruang berkeliaran selama empat hari sebelum akhirnya ditangkap. Di Fukushima, beruang yang dijuluki "sangat cerdas"โmampu membuka jendela dan menyalakan keranโmenyerang empat orang di dua pabrik dan kabur selama berhari-hari.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Jepang. Di Indonesia, konflik antara manusia dan satwa liar, terutama di daerah penyangga taman nasional, juga kerap terjadi. Misalnya, serangan harimau di Sumatera atau gajah di Aceh seringkali dipicu oleh rusaknya habitat alami. Namun, kasus Jepang menyoroti bagaimana urbanisasi dan perubahan iklim dapat memaksa hewan liar masuk ke pemukiman padat penduduk. Pemerintah Jepang kini gencar membersihkan semak di sepanjang tepi sungai dan area antara perumahan dan gunung untuk mengurangi jalur jelajah beruang.
Para ahli memperkirakan bahwa kelangkaan sumber makanan alami, seperti biji pohon ek, akibat perubahan iklim menjadi pendorong utama meningkatnya interaksi beruang dengan manusia. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin kota-kota besar lain di Jepang harus mengikuti jejak Hachioji. Pertanyaannya, apakah langkah preventif seperti semprotan dan pagar listrik cukup efektif dalam jangka panjang, atau justru diperlukan strategi pengelolaan habitat yang lebih fundamental?



