Kunjungan Hun Sen ke China: Dorongan Investasi atau Ancaman Defisit Dagang?
Baca dalam 60 detik
- Presiden Senat Kamboja, Hun Sen, melakukan kunjungan kenegaraan ke China pada 25-27 Juni 2026 untuk memperkuat hubungan dagang dan investasi.
- China merupakan mitra dagang terbesar Kamboja dengan nilai perdagangan mencapai USD 9,39 miliar pada Januari-Mei 2026, namun defisit dagang Kamboja melebar menjadi USD 7,88 miliar.
- Kunjungan ini diharapkan membuka akses pasar lebih luas bagi ekspor Kamboja, tetapi kekhawatiran atas defisit dan ketergantungan bahan baku masih membayangi.

Presiden Senat Kamboja, Hun Sen, dijadwalkan memimpin delegasi dalam kunjungan resmi ke China pada 25-27 Juni 2026, langkah yang dinilai para ekonom akan memperkuat hubungan diplomatik dan perdagangan kedua negara. Kunjungan ini terjadi di tengah posisi China sebagai mitra dagang terbesar Kamboja dan sumber utama investasi asing, dengan nilai perdagangan bilateral yang melonjak 22,9 persen dalam lima bulan pertama tahun ini.
Menurut pernyataan Sekretariat Senat Kamboja pada 23 Juni, kunjungan tersebut mencerminkan komitmen kedua negara untuk mempererat "persahabatan baja" dan memperdalam kerja sama di bawah kerangka kemitraan strategis komprehensif. Lor Vichet, Wakil Presiden Asosiasi Perdagangan Kamboja-China (CCCA), menilai bahwa kunjungan pemimpin Kamboja ke China selalu membawa dampak positif, termasuk memperkuat hubungan pemerintah-swasta, memperluas akses pasar bagi ekspor Kamboja, dan mendorong investasi China.
Data dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kamboja (GDCE) menunjukkan bahwa perdagangan bilateral mencapai USD 9,39 miliar pada Januari-Mei 2026. Impor dari China naik 23,3 persen menjadi USD 8,64 miliar, sementara ekspor Kamboja ke China hanya USD 753,37 juta, meningkat 18,8 persen. Akibatnya, defisit perdagangan Kamboja melebar menjadi USD 7,88 miliar, dari USD 6,37 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Lor Vichet mengakui bahwa defisit dagang yang membengkak menjadi kekhawatiran utama. Kamboja masih kekurangan kapasitas untuk memproduksi bahan baku yang diperlukan bagi industri pengolahan dan manufaktur bernilai tambah. Meskipun demikian, ia optimistis tren perdagangan bilateral akan terus meluas, terutama karena Kamboja menikmati akses preferensial ke berbagai pasar internasional, menarik investor China untuk mendirikan fasilitas produksi berorientasi ekspor.
Kunjungan Hun Sen juga akan diiringi pertemuan antara Kamar Dagang Kamboja (CCC) yang dipimpin Kith Meng dengan komunitas bisnis China. Diskusi difokuskan pada penguatan kerja sama ekonomi, perdagangan, dan investasi. Sementara itu, Dewan Pembangunan Kamboja (CDC) melaporkan bahwa pada 2025, pihaknya menyetujui 630 proyek investasi dengan total nilai sekitar USD 10 miliar, dengan China menduduki peringkat pertama sebagai sumber investasi asing (54,25 persen), diikuti investor domestik, Singapura, dan Vietnam.
Bagi Indonesia, dinamika ini relevan mengingat pola ketergantungan serupa pada investasi dan perdagangan dengan China. Defisit dagang Indonesia dengan China juga terus melebar, mencapai USD 7,5 miliar pada kuartal I-2026. Kunjungan Hun Sen bisa menjadi contoh bagaimana negara ASEAN lain bernegosiasi untuk menyeimbangkan hubungan, meskipun hasil konkretnya masih perlu dibuktikan. Pertanyaan besarnya: apakah Kamboja mampu mengubah defisit menjadi surplus melalui hilirisasi, atau justru semakin terperangkap dalam ketergantungan impor?



