Hanoi Luncurkan Rencana Investasi Abad ke-21: Target Ekonomi Rp 9.000 Triliun pada 2045
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Hanoi akan menggelar Konferensi Promosi Investasi 2026 pada 29 Juni, sekaligus mengumumkan rencana induk kota dengan visi 100 tahun.
- Ibu kota Vietnam beralih dari pendekatan kuantitas ke kualitas investasi, memprioritaskan proyek bernilai tambah tinggi dan teknologi canggih.
- Rencana tersebut menargetkan pertumbuhan GRDP rata-rata di atas 11% per tahun hingga 2035, dengan ekonomi mencapai sekitar 640 miliar dolar AS pada 2045.

Hanoi bersiap menggelar Konferensi Promosi Investasi 2026 pada Senin (29/6) mendatang, sebuah momentum yang tidak hanya menandai evaluasi capaian ekonomi, tetapi juga menjadi panggung peluncuran cetak biru pembangunan ibu kota Vietnam untuk satu abad ke depan. Langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang yang ambisius, di mana Hanoi ingin bertransformasi dari sekadar pusat administrasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi berteknologi tinggi dan berkelanjutan.
Wakil Direktur Dinas Keuangan Hanoi, Le Trung Hieu, mengungkapkan bahwa konferensi tersebut akan memaparkan pencapaian sosial-ekonomi kota serta memperkenalkan visi pembangunan dan mekanisme kebijakan khusus yang baru. Acara ini diharapkan mampu menarik minat investor domestik dan internasional, dengan target partisipasi mencapai 1.000 hingga 1.200 orang, termasuk perwakilan perusahaan, organisasi investasi, kementerian, lembaga internasional, kedutaan besar, lembaga keuangan, dan dana investasi.
Salah satu sorotan utama adalah peluncuran platform digital untuk manajemen proyek investasi dan data. Sistem ini akan mendigitalisasi proyek-proyek investasi melalui citra 3D, peta digital, dan data lapangan, sehingga memudahkan investor mengakses informasi perencanaan, prosedur, dan kebijakan. Alat interaktif ini diharapkan dapat meningkatkan transparansi dan mempersingkat waktu yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi peluang investasi. Selain itu, akan digelar pameran rencana induk Hanoi yang menampilkan model skala, peta, dan teknologi pemetaan 3D untuk membantu warga dan pelaku bisnis memahami orientasi pembangunan kota.
Perubahan strategi yang paling menonjol adalah pergeseran dari pendekatan ekstensif ke intensif dalam menarik investasi. Hanoi tidak lagi sekadar mengejar jumlah proyek atau modal terdaftar, melainkan akan memprioritaskan investor strategis dan proyek yang mampu menghasilkan nilai tambah tinggi serta mendorong pertumbuhan. Hasil ekonomi semester pertama menunjukkan momentum positif: indeks produksi industri naik 8,8%, total penjualan ritel dan jasa mencapai 516,9 triliun VND (naik 13,3%), dan kunjungan wisatawan diperkirakan 4,8 juta (naik 33%). Ekonomi digital menyumbang sekitar 17,34% terhadap GRDP Hanoi, menjadikannya pemimpin nasional dalam digitalisasi prosedur administrasi.
Dalam rencana induk yang tertuang dalam Keputusan No 2512/QD-UBND, Hanoi akan dikembangkan dengan model “multi-lapis, multi-kutub, multi-pusat”, dengan Sungai Merah sebagai poros ekologis dan budaya yang menghubungkan sembilan kutub pembangunan, sembilan pusat utama, dan sembilan koridor pertumbuhan. Target pertumbuhan GRDP rata-rata di atas 11% per tahun selama 2026–2035, dengan proyeksi ekonomi mencapai sekitar 200 miliar dolar AS pada 2035 dan 640 miliar dolar AS pada 2045. Kawasan pertumbuhan utama telah diidentifikasi: Hoa Lac–Son Tay–Xuan Mai akan fokus pada teknologi tinggi, semikonduktor, kecerdasan buatan, dan riset; Noi Bai–Dong Anh–Soc Son–Me Linh akan mengkhususkan diri pada logistik penerbangan dan kawasan perdagangan bebas; sementara koridor Sungai Merah akan mempromosikan industri budaya, keuangan, perdagangan, pariwisata, dan pengembangan perkotaan kreatif.
Untuk mendukung ambisi tersebut, Hanoi berencana mempercepat proyek infrastruktur besar, termasuk jaringan kereta api perkotaan sepanjang 1.153 km, kawasan perdagangan bebas yang terhubung dengan bandara di utara, kawasan sains dan teknologi Hoa Lac, serta studi untuk bandara kedua di Kawasan Ibu Kota. Dengan Undang-Undang Ibu Kota 2026 dan mekanisme khusus baru, Hanoi optimistis dapat memperkuat daya tariknya bagi investor strategis dan proyek berteknologi tinggi. Pertanyaannya, apakah Vietnam mampu menjaga momentum ini di tengah persaingan regional yang semakin ketat, terutama dengan negara-negara ASEAN lain yang juga gencar merebut investasi?



