Skotlandia di Ambang Sejarah: Hadapi Brasil dengan Misi Lolos ke Fase Gugur
Baca dalam 60 detik
- Skotlandia hanya butuh hasil imbang atau bahkan kekalahan tipis untuk lolos ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 untuk pertama kalinya.
- Pelatih Steve Clarke harus meramu strategi hibrida: bertahan rapat dari serangan Brasil namun tetap mampu merepotkan lini belakang lawan.
- Pemain kunci seperti McTominay dan McGinn dituntut tampil lebih tajam setelah hanya dua tembakan tepat sasaran dalam dua laga awal.

Skotlandia menghadapi laga penentuan melawan Brasil di Miami, Rabu (25/6) dini hari WIB, dengan peluang emas untuk mencatatkan sejarah pertama kali lolos ke babak gugur Piala Dunia. Situasi unik membuat mereka tak harus menang—kekalahan tipis pun bisa cukup jika hasil pertandingan lain di grup mendukung.
Dalam 60 tahun dan sepuluh pertemuan, Skotlandia belum pernah sekalipun mengalahkan Brasil. Dua hasil imbang pada 1966 dan 1974 menjadi catatan terbaik. Kini, di bawah arahan Steve Clarke, mereka memiliki kesempatan langka untuk memutus kutukan tersebut sekaligus mengamankan tiket ke fase knockout.
Kapten Andy Robertson menegaskan timnya tidak akan bermain untuk hasil imbang atau kekalahan. Namun, realitas matematis grup membuat skenario apa pun mungkin terjadi. Jika Skotlandia kalah dengan selisih satu gol sementara laga lain berjalan sesuai harapan, mereka tetap bisa melaju. “Kami tidak peduli dengan permutasi,” ujar Robertson, meski ia pasti hafal detailnya.
Clarke dihadapkan pada teka-teki taktik. Brasil, meski tidak sedang dalam performa terbaik—hanya menang 8 dari 18 laga kualifikasi—tetap memiliki individu berbahaya seperti Vinicius Junior dan Neymar yang siap kembali. Skotlandia harus menemukan keseimbangan antara bertahan rapat dan sesekali melancarkan serangan balik. “Kami harus lebih mengancam dari dua pertandingan sebelumnya,” kata Clarke.
Masalah utama Skotlandia adalah tumpulnya lini depan. Che Adams dan Lyndon Dykes belum menunjukkan ketajaman, sementara opsi seperti Lawrence Shankland atau Ross Stewart minim pengalaman di level ini. Scott McTominay, yang biasanya bermain di lini tengah, disebut-sebut bisa menjadi kejutan sebagai striker, meski asisten pelatih Steven Naismith membantahnya. “McTominay adalah pemain besar, energik, dan penyelesaian akhir bagus. Tapi ia belum tampil maksimal,” ujar Naismith.
Di sisi lain, Brasil datang dengan tekanan besar. Sudah 24 tahun sejak terakhir kali mereka menjuarai turnamen ini. Kekalahan 7-1 dari Jerman di semifinal 2014 masih membekas. Pelatih Brasil kemungkinan akan menurunkan Neymar sebagai false nine atau memasukkannya dari bangku cadangan jika pertandingan berjalan ketat. Media Brasil hampir setiap jam memperbarui kondisi cedera betis sang bintang.
Bagi Skotlandia, laga ini juga menjadi panggung bagi pemain muda Ben Doak, yang diplot sebagai starter di sayap. Ia diharapkan menjadi pembeda dengan kecepatan dan kelincahannya. Namun, tanpa dukungan dari gelandang seperti McGinn dan McTominay, Doak mungkin akan kesulitan.
Jika Skotlandia berhasil meraih hasil positif, perayaan di Boston—kota yang mengadopsi Tartan Army—akan menjadi puncak euforia. Namun, Clarke dan anak asuhnya sadar bahwa kerja keras belum selesai. “Kami harus lebih baik, lebih kreatif, dan lebih kejam di depan gawang,” tegasnya.
Pertanyaannya, akankah Skotlandia mampu memanfaatkan momen langka ini, atau kembali pulang dengan penyesalan seperti di masa lalu? Jawabannya akan terjawab dalam 90 menit di Miami.



