Cemburu Jadi Pemicu: Polisi Beberkan Motif Penganiayaan Caddy Golf di Tangerang
Baca dalam 60 detik
- Seorang pemain golf berinisial FP (38) ditangkap polisi setelah videonya menganiaya caddy golf viral di media sosial.
- Penyelidikan mengungkap bahwa kecemburuan korban terhadap pelaku yang memanggil petugas lain dengan panggilan sayang menjadi pemicu adu mulut hingga terjadi kekerasan.
- FP kini ditetapkan sebagai tersangka dan masih menjalani proses hukum di Polres Metro Tangerang Kota, sementara publik menanti perkembangan kasus ini.

Kecemburuan sesaat menjadi pemicu aksi kekerasan yang dilakukan seorang pemain golf terhadap caddy di kawasan Modern Golf, Tangerang, Banten. Polisi memastikan motif penganiayaan yang terekam dalam video viral itu bukanlah persoalan sepele, melainkan dipicu oleh rasa cemburu korban terhadap pelaku.
Kasi Humas Polres Metro Tangerang Kota AKP Iwan Heriestiawan mengungkapkan, peristiwa berdarah itu terjadi pada Selasa (23/6) sekitar pukul 19.51 WIB. Saat itu, tersangka FP (38) meminta seorang marshal atau petugas pengawas permainan berinisial VD untuk membelikan minuman. Tak hanya itu, FP juga mengucapkan kalimat 'terima kasih adikku sayang' yang ternyata didengar oleh korban yang berada di dekatnya.
"Korban kemudian tersulut emosi hingga terjadi adu mulut yang berujung pada aksi penganiayaan itu," kata Iwan dalam keterangannya, Jumat (26/6). Korban diketahui kerap melayani FP saat bermain golf, sehingga kedekatan itu membuatnya merasa cemburu saat melihat pelaku akrab dengan petugas lain.
Polisi bergerak cepat setelah video penganiayaan tersebut viral di media sosial. Dalam rekaman, terlihat korban dan FP terlibat cekcok di dalam mobil golf usai bermain. Emosi FP yang terpancing kemudian membuatnya menarik korban dan melakukan penganiayaan. Tim Satreskrim Polres Metro Tangerang Kota akhirnya menangkap FP di persembunyiannya di Bandar Lampung pada Jumat (26/6) dan menetapkannya sebagai tersangka setelah gelar perkara.
Kasus ini menyoroti pentingnya pengelolaan emosi di tempat kerja, terutama dalam lingkungan rekreasi yang seharusnya santai. Para pengamat menilai, insiden seperti ini bisa menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk tidak mudah terprovokasi oleh hal-hal kecil. "Kecemburuan yang tidak terkendali bisa berujung pada tindakan kriminal yang merugikan diri sendiri dan orang lain," ujar seorang psikolog forensik yang enggan disebut namanya.
Hingga saat ini, tersangka FP masih menjalani proses penyidikan untuk melengkapi berkas perkara sebelum dilimpahkan ke tahap penuntutan. Polisi memastikan akan menindak tegas pelaku kekerasan, terlepas dari latar belakang profesinya. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah hukuman yang setimpal akan memberikan efek jera bagi pelaku dan mencegah kejadian serupa di masa depan?



