Konflik Timur Tengah Dongkrak Ekspor Batu Bara dan CPO Indonesia, BI Ungkap Peluang
Baca dalam 60 detik
- Kenaikan harga minyak mentah akibat perang di Timur Tengah mendorong permintaan batu bara dan CPO Indonesia.
- Depresiasi rupiah membuat harga komoditas ekspor Indonesia semakin kompetitif di pasar global.
- Indonesia, sebagai produsen utama batu bara dan CPO, diproyeksikan menikmati surplus neraca berjalan dari lonjakan ekspor ini.

Ketegangan geopolitik yang berkecamuk di Timur Tengah justru membawa berkah bagi perekonomian Indonesia. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa konflik tersebut mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia, yang kemudian merembet ke komoditas ekspor utama Tanah Air seperti batu bara dan minyak kelapa sawit (CPO).
Menurut Destry, lonjakan harga energi global memicu peralihan permintaan dari minyak ke batu bara yang relatif lebih murah. Indonesia, sebagai salah satu produsen batu bara terbesar di dunia, dipastikan akan menuai keuntungan dari tren ini. "Banyak negara beralih kembali ke batu bara karena harga minyak yang tinggi. Ini peluang bagi kita untuk meningkatkan ekspor," ujarnya dalam wawancara dengan CNBC Indonesia, Rabu (24/6/2026).
Tak hanya batu bara, CPO juga ikut terangkat. Indonesia merupakan penghasil minyak sawit terbesar global, dan kenaikan harga komoditas ini akan langsung berdampak pada penerimaan devisa negara. Destry menambahkan bahwa depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS semakin memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar internasional. "Dengan rupiah yang melemah, harga batu bara dan CPO kita menjadi lebih murah bagi pembeli asing, sehingga volume ekspor berpotensi meningkat," jelasnya.
Namun, di balik optimisme tersebut, para analis mengingatkan bahwa keuntungan ini bersifat sementara dan bergantung pada durasi konflik. Jika perang berkepanjangan, risiko inflasi global dan perlambatan ekonomi justru bisa menekan permintaan komoditas. Selain itu, tekanan terhadap lingkungan dari peningkatan penggunaan batu bara juga menjadi sorotan, mengingat komitmen Indonesia menuju netral karbon pada 2060.
Bagi pelaku pasar dan investor di Indonesia, situasi ini memberikan angin segar di tengah ketidakpastian global. Surplus neraca berjalan yang lebih besar dapat memperkuat cadangan devisa dan menstabilkan rupiah. Meski demikian, diversifikasi ekonomi tetap menjadi agenda jangka panjang agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada komoditas yang rentan terhadap gejolak geopolitik.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: mampukah Indonesia memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat posisi tawar di pasar energi global, atau justru terjebak dalam siklus komoditas yang fluktuatif? Jawabannya akan sangat bergantung pada kebijakan hilirisasi dan pengelolaan fiskal yang hati-hati.



