Kenangan Perang yang Tak Pudar: 81 Tahun Peristiwa Himeyuri, Suara Perdamaian dari Okinawa
Baca dalam 60 detik
- Peringatan ke-81 gugurnya 136 siswi dan guru Himeyuri dalam Pertempuran Okinawa digelar di Itoman, tanpa kehadiran korban selamat karena usia lanjut.
- Pidato alumni mengecam meningkatnya kecenderungan militeristik di Jepang dan mengingatkan pentingnya kebebasan berpendapat serta perlindungan generasi muda.
- Insiden tewasnya siswa dalam perjalanan sekolah di Okinawa memicu perdebatan tentang efektivitas pendidikan perdamaian dan kesadaran atas pangkalan militer AS.

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang kembali diwarnai konflik bersenjata, Okinawa kembali mengirimkan pesan perdamian yang tak lekang waktu. Pada 23 Juni lalu, sekitar 220 orang—termasuk keluarga korban dan simpatisan—berkumpul di depan Monumen Himeyuri di Itoman, Prefektur Okinawa, untuk memperingati 81 tahun gugurnya 136 siswi dan guru yang tergabung dalam Korps Siswa Himeyuri dalam Pertempuran Okinawa tahun 1945. Tak satu pun mantan anggota korps yang masih hidup hadir karena usia lanjut dan kondisi kesehatan yang memburuk.
Korps Himeyuri terdiri dari siswi dan guru dari Sekolah Normal Perempuan Okinawa dan Sekolah Menengah Atas Perempuan Pertama Prefektur Okinawa. Mereka dimobilisasi oleh Tentara Kekaisaran Jepang untuk bertugas di rumah sakit dan pos medis militer, merawat yang terluka dan membantu operasi. Dari total anggota, 136 orang tewas akibat tembakan pasukan Amerika Serikat atau bunuh diri selama pertempuran sengit yang berlangsung dari April hingga Juni 1945. Monumen Himeyuri sendiri didirikan setahun setelah perang berakhir, pada 1946, dan diperkirakan hanya sekitar 10 mantan anggota korps yang masih hidup saat ini.
Dalam upacara tersebut, Yoshiko Chinen (97 tahun), ketua asosiasi alumni korps yang menyelenggarakan acara, membacakan pidato peringatan. Ia menyoroti bahwa perang masih berkecamuk di berbagai belahan dunia dan merenggut nyawa tak berdosa. Di Jepang, kata Chinen, gerakan-gerakan yang mengingatkan pada masa sebelum perang semakin meningkat. "Saya berharap kita tidak pernah lagi berada dalam situasi di mana kita tidak bisa berbicara bebas atau mengirim generasi muda ke medan perang," ujarnya, menggemakan kekhawatiran banyak kalangan akan memudarnya semangat pasifisme pascaperang.
Di antara yang hadir adalah Fumiko Taketomi (100 tahun), adik dari guru musik Keii Kochinda yang menggubah "Wakare no uta" (Lagu Perpisahan) untuk dinyanyikan para siswi saat kelulusan. Kochinda tewas bersama banyak muridnya selama perang. Dengan mata berkaca-kaca, Taketomi mengatakan, "Tidak ada satu hari pun saya tidak menangis. Kakak saya baik hati. Selama saya hidup, saya tidak akan pernah melewatkan upacara peringatan ini. Saya benci perang, dan saya berdoa semoga tidak ada lagi perang."
Chokei Futenma, direktur Museum Perdamaian Himeyuri, mencatat bahwa minat publik terhadap Pertempuran Okinawa dan perdamaian kembali meningkat tahun ini, sama seperti pada peringatan ke-80 tahun lalu. Namun, ia juga menyoroti insiden pada Maret 2025 di mana dua orang—termasuk seorang siswa SMA yang sedang dalam perjalanan studi—tewas di lepas pantai Henoko, Nago, Okinawa. Peristiwa itu memicu perdebatan tentang esensi pendidikan perdamaian di Jepang. "Ada hal-hal yang hanya bisa dirasakan dengan datang ke Okinawa. Masyarakat di luar prefektur sangat tidak sadar akan isu pangkalan militer AS di sini atau Pertempuran Okinawa. Kecuali mereka datang dalam perjalanan studi, mereka tidak bisa melihat atau memikirkan isu-isu ini," tegas Futenma.
Peringatan Himeyuri tahun ini menjadi pengingat bahwa luka sejarah masih membekas, dan bahwa perdamaian bukanlah kondisi yang given. Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Indo-Pasifik, termasuk penguatan aliansi militer dan kontroversi seputar pangkalan AS di Okinawa, pesan dari para penyintas dan keluarga korban menjadi semakin relevan. Akankah generasi muda Jepang—dan dunia—benar-benar belajar dari tragedi ini, atau justru mengulangi kesalahan yang sama?



