Warga Venezuela Gali Reruntuhan Sendiri, Pemerintah Dituding Lamban Tangani Gempa
Baca dalam 60 detik
- Dua gempa berkekuatan 7,2 dan 7,5 SR mengguncang Venezuela pada 24 Juni, menewaskan sedikitnya 920 orang dan menyebabkan lebih dari 51.000 orang hilang.
- Warga di La Guaira, pusat gempa, terpaksa mencari sendiri korban selamat karena minimnya tim penyelamat pemerintah, sementara otoritas membatasi akses ke zona bencana.
- Bantuan internasional mulai mengalir dengan 861 relawan dari berbagai negara, namun krisis politik dan ekonomi Venezuela menghambat efektivitas respons.

Lebih dari 51.000 orang dinyatakan hilang setelah dua gempa bumi dahsyat berturut-turut melanda Venezuela pada Rabu (24/6), memicu kepanikan dan kemarahan warga yang merasa ditinggalkan oleh pemerintah. Korban jiwa resmi telah menembus angka 920 jiwa, dan jumlah tersebut diperkirakan terus bertambah seiring proses evakuasi yang berjalan lambat.
Di La Guaira, negara bagian di utara Caracas yang menjadi episentrum kehancuran, warga terpaksa menjadi penyelamat bagi keluarga mereka sendiri. Dengan peralatan seadanya—palu, linggis, dan mesin potong beton—mereka menggali tumpukan puing bangunan yang runtuh. Nazareth Jimenez, seorang warga, tak kuasa menahan tangis saat menyaksikan tetangganya berusaha membelah lempengan beton. “Ya Tuhan, bagaimana kami bisa mengeluarkan mereka dari sana?” ujarnya lirih. Ia masih menunggu kabar tentang saudara-saudaranya yang terkubur.
Pemerintah Venezuela di bawah pimpinan Presiden Sementara Delcy Rodríguez mengklaim telah mengerahkan respons penuh, termasuk pendistribusian makanan dan air, serta militerisasi La Guaira. Namun, warga di lokasi bencana melaporkan minimnya kehadiran tim penyelamat negara. “Kami hanya melihat sedikit sekali petugas,” kata seorang sukarelawan lokal. Ketiadaan alat berat juga menjadi keluhan utama, karena banyak korban diduga masih hidup di bawah reruntuhan tetapi tak bisa dijangkau.
Pada Jumat malam, otoritas setempat mengumumkan penutupan akses menuju La Guaira dengan alasan kekacauan lalu lintas mengganggu upaya pencarian. Siapa pun yang ingin masuk kini harus memiliki izin khusus, meski detailnya tidak dijelaskan. Kebijakan ini memicu kritik karena justru menghambat kedatangan bantuan dan relawan.
Di tengah keterbatasan, gelombang bantuan internasional mulai berdatangan. Perserikatan Bangsa-Bangsa mengirimkan 1.000 personel darurat dalam 25 tim pencari dan penyelamat dari berbagai negara. Presiden Rodríguez mengaku telah berbicara dengan Presiden AS Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, yang berjanji mengirimkan tim penyelamat dan peralatan. Namun, para pengamat menilai respons internasional ini masih jauh dari cukup mengingat skala bencana yang sangat besar.
Bencana ini menjadi ujian berat bagi pemerintahan Rodríguez yang baru menjabat sejak Januari, setelah pendahulunya Nicolás Maduro ditangkap oleh Amerika Serikat. Venezuela telah dilanda krisis ekonomi selama lebih dari satu dekade, dan banyak warga yang meragukan legitimasi pemerintahan saat ini. “Setiap orang yang selamat adalah mukjizat,” kata Jorge Rodríguez, ketua Majelis Nasional. “Kami tidak akan menyembunyikan apa pun tentang besarnya tragedi ini.”
Di lapangan, keputusasaan mulai merasuk. Omar Reyes kehilangan sekitar 20 anggota keluarganya, termasuk dua anaknya yang masih tertimbun. “Saya sendirian sekarang di hidup ini,” katanya. Di Maiquetía, antrean panjang terjadi di toko kelontong dan apotek yang buka terbatas. Seorang wanita bahkan menjatuhkan diri ke tanah demi melindungi bungkus popok yang baru dibelinya. Sementara itu, aksi penjarahan barang kebutuhan dasar seperti makanan dan tisu toilet dilaporkan terjadi di Catia La Mar, dekat bandara utama.
Kebisingan lalu lintas dan sepeda motor—baik dari warga maupun personel berseragam—sering mengganggu upaya penyelamatan. Tentara Meksiko dan relawan berulang kali meminta keheningan untuk mendengar suara korban di bawah puing, tetapi sering diabaikan. “Kami butuh ketenangan, bukan klakson,” keluh seorang petugas.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan gempa dan respons cepat. Dengan letak geografis yang sama-sama berada di Cincin Api Pasifik, Indonesia rentan terhadap gempa bumi dan tsunami. Pelajaran dari Venezuela—mulai dari pentingnya koordinasi pemerintah, ketersediaan alat berat, hingga pengelolaan lalu lintas di zona bencana—dapat menjadi bahan evaluasi bagi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan pemerintah daerah. Pertanyaan besarnya: apakah sistem tanggap darurat Indonesia sudah cukup tangguh menghadapi skenario serupa?



