Kitakyushu Luncurkan Peta Wisata Berbahasa Inggris Pertama, Targetkan 50.000 Eksemplar per Tahun
Baca dalam 60 detik
- Kitakyushu menerbitkan peta wisata dwibahasa Inggris-Jepang pertama untuk memudahkan turis asing menjelajahi kota secara mandiri.
- Peta cetak 'Now Map Kitakyushu' dilengkapi tautan digital melalui QR code, menyajikan informasi kuliner, belanja, dan transportasi.
- Inisiatif ini diharapkan mendorong wisatawan mancanegara, termasuk dari Indonesia, untuk menjangkau destinasi di luar Fukuoka.

Kitakyushu, kota pelabuhan di prefektur Fukuoka, Jepang barat, resmi meluncurkan peta wisata berbahasa Inggris pertamanya pada akhir Juni 2025. Langkah ini menjadi bagian dari strategi memperkuat daya tarik bagi wisatawan mancanegara yang ingin menjelajahi kota secara mandiri, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pemandu wisata.
Peta bernama "Now Map Kitakyushu" ini diterbitkan oleh Kitakyushu Convention & Visitors Association bersama sejumlah organisasi pariwisata setempat. Menurut pihak penyelenggara, peta serupa yang sebelumnya diluncurkan di Fukuoka kota mendapat sambutan positif dari wisatawan negara-negara berbahasa Inggris. Edisi Kitakyushu diposisikan sebagai "sister edition" yang dirancang untuk melengkapi pengalaman wisata di kawasan tersebut.
Peta cetak berukuran A1 ini dicetak bolak-balik penuh warna dan mencakup informasi lengkap tentang kawasan utama seperti Kastil Kokura, Mojiko Retro, Gunung Sarakura, dan Hiraodai. Tak hanya objek wisata, peta juga menyajikan rekomendasi restoran, pusat perbelanjaan, hiburan malam, serta akses transportasi. Nama tempat dan label dalam bahasa Jepang tetap disertakan untuk memudahkan navigasi langsung di lapangan.
Keunikan lain dari inisiatif ini adalah keterhubungannya dengan versi digital. Setiap peta cetak memuat kode QR yang mengarahkan pengguna ke "Kitakyushu Travel Guide", sebuah panduan wisata digital yang menyediakan informasi multibahasa. Dengan demikian, wisatawan dapat mengakses detail lebih lanjut tentang tempat-tempat yang dikunjungi hanya dengan memindai kode menggunakan ponsel.
Bagi pelancong asal Indonesia, langkah Kitakyushu ini membuka peluang baru. Selama ini, sebagian besar wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Kyushu cenderung terpusat di Fukuoka kota atau atraksi terkenal seperti Gunung Aso dan Beppu. Dengan adanya peta berbahasa Inggris yang mudah diakses, wisatawan mandiriโtermasuk mereka yang tidak menguasai bahasa Jepangโkini memiliki panduan yang lebih komprehensif untuk mengeksplorasi Kitakyushu yang kaya akan sejarah industri, pemandangan alam, dan kuliner khas.
Menurut pengamat pariwisata, strategi semacam ini sejalan dengan tren pascapandemi di mana wisatawan global semakin mencari pengalaman otentik di luar destinasi utama. Kitakyushu, yang dikenal dengan latar belakang kota industri dan pelabuhan, menawarkan daya tarik berbeda dibandingkan kota-kota besar seperti Tokyo atau Osaka. Pemerintah kota setempat berharap peta ini dapat mendorong wisatawan untuk tinggal lebih lama dan menyebar ke berbagai sudut kota.
Distribusi peta tidak hanya terbatas di Kitakyushu. Rencananya, peta juga akan disebarluaskan di pusat-pusat wisata utama di Jepang barat, termasuk Fukuoka, Hiroshima, dan Beppu. Langkah ini diharapkan dapat menjaring wisatawan yang sedang dalam perjalanan antar kota di Kyushu dan sekitarnya.
Ke depan, tantangan terbesar adalah memastikan peta tetap relevan seiring perubahan informasi, seperti jam operasional restoran atau rute transportasi. Namun dengan integrasi digital, pembaruan dapat dilakukan secara real-time melalui panduan online. Pertanyaannya, apakah inisiatif serupa akan diadopsi oleh kota-kota lain di Jepang yang juga ingin menarik lebih banyak wisatawan asing?



