Ryan Cohen Tolak Kompensasi Rp 560 Triliun, Fokus Akusisi eBay
Baca dalam 60 detik
- CEO GameStop, Ryan Cohen, menolak paket kompensasi berbasis kinerja senilai $35 miliar demi memusatkan perhatian pada upaya akuisisi eBay.
- Langkah ini mengejutkan pasar karena GameStop yang bernilai $10 miliar berencana membeli eBay yang valuasinya lima kali lipat lebih besar.
- GameStop akan merilis dokumen strategis akuisisi eBay pekan ini, sementara eBay sebelumnya menolak tawaran $56 miliar sebagai tidak kredibel.

Ryan Cohen, miliarder yang menjabat sebagai CEO GameStop, secara mengejutkan memutuskan untuk tidak mengambil paket kompensasi berbasis kinerja senilai sekitar $35 miliar (Rp 560 triliun) dari perusahaan ritel video game tersebut. Keputusan ini diambil agar ia dan jajaran direksi dapat fokus penuh pada rencana ambisius mengakuisisi eBay, platform e-commerce global, demikian pernyataan resmi perusahaan pada Selasa (23/6).
Paket kompensasi yang diumumkan pada Januari lalu itu dirancang sebagai imbalan jika Cohen berhasil memulihkan kinerja GameStop—termasuk meningkatkan kapitalisasi pasar perusahaan lebih dari sepuluh kali lipat dan mendongkrak laba secara tajam. Namun, Cohen menilai bahwa insentif tersebut justru dapat mengalihkan perhatian dari tugas utama: mengintegrasikan GameStop dengan eBay untuk bersaing melawan Amazon.
Langkah ini mempertegas ambisi Cohen yang pada Mei lalu mengajukan tawaran akuisisi tak diminta (unsolicited bid) senilai $56 miliar dalam bentuk kas dan saham untuk menguasai eBay. Meski dewan direksi eBay telah menolak tawaran tersebut dengan menyebutnya "tidak kredibel dan tidak menarik," Cohen tetap bergerak maju. GameStop berjanji akan merilis materi tambahan pekan ini, termasuk presentasi rinci tentang alasan strategis dan rencana operasional perusahaan gabungan.
Spekulasi mengenai langkah Cohen selanjutnya telah meningkat di Wall Street. Sejak bergabung dengan dewan direksi GameStop pada Januari 2021 dan menjadi CEO pada September 2023, Cohen berhasil membawa perusahaan kembali ke jalur profitabilitas melalui pemotongan biaya agresif, termasuk menutup ratusan toko fisik. Kinerja kuartal terakhir menunjukkan pendapatan naik 14% berkat permintaan barang koleksi yang kuat.
Meski demikian, banyak analis dan investor meragukan kemampuan GameStop—yang bernilai sekitar $10 miliar—untuk mengakuisisi perusahaan lima kali lebih besar. Pertanyaan mengenai sumber pendanaan masih mengemuka. Bankir dan pengacara yang akrab dengan situasi ini mengatakan belum jelas dari mana dana sebesar itu akan diperoleh. Sementara itu, juru bicara eBay menolak berkomentar terkait pernyataan terbaru GameStop.
Bagi pasar Indonesia, langkah Cohen ini menjadi pengingat bahwa strategi turnaround dan akuisisi berani dapat mengubah peta persaingan e-commerce global. Jika akuisisi eBay berhasil, persaingan dengan Amazon akan semakin ketat, berpotensi mempengaruhi rantai pasok dan harga produk yang masuk ke Indonesia. Namun, kegagalan pendanaan atau penolakan regulasi dapat menjadi preseden negatif bagi ambisi serupa di pasar negara berkembang.
Ke depan, pertanyaan kunci yang menggantung adalah: dari mana GameStop akan mendapatkan dana puluhan miliar dolar? Apakah Cohen akan menggandeng mitra investasi, menerbitkan utang, atau justru menjual aset? Jawabannya akan menentukan apakah langkah ini merupakan gebrakan visioner atau petualangan berisiko tinggi.



