Bumble Dikabarkan Cari Pembeli, Saham Merosot 48% dalam Setahun
Baca dalam 60 detik
- Bumble menggandeng Morgan Stanley untuk menjajaki potensi akuisisi di tengah penurunan jumlah pengguna berbayar hingga 20% pada kuartal I-2026.
- Nilai pasar Bumble terkoreksi drastis dari puncak IPO 2021 sebesar US$7 miliar menjadi hanya US$388 juta, mencerminkan krisis model bisnis aplikasi kencan.
- Keunggulan konsep 'women-first' mulai kehilangan daya tarik, sementara ekspansi ke layanan non-kencan seperti Bumble For Friends belum signifikan.

Bumble, aplikasi kencan yang dikenal dengan konsep 'wanita memulai percakapan', tengah menjajaki kemungkinan akuisisi di tengah tekanan bisnis yang semakin berat. Perusahaan yang berbasis di Austin, Texas itu telah menunjuk Morgan Stanley sebagai penasihat keuangan untuk memproses potensi penjualan, demikian diungkapkan tiga sumber yang mengetahui langsung pembahasan tersebut.
Langkah ini diambil saat Bumble menghadapi penurunan jumlah pengguna berbayar yang signifikan. Sepanjang tahun fiskal 2025, total pengguna berbayar turun lebih dari 11% menjadi sekitar 3,7 juta, sementara pendapatan tahunan merosot hampir 10% menjadi US$966 juta. Tren negatif berlanjut pada kuartal pertama 2026 dengan penurunan pengguna berbayar mencapai 20% secara tahunan, setelah perusahaan memangkas akun-akun dengan tingkat keterlibatan rendah.
Kabar penjualan ini muncul setelah saham Bumble ambles 48% dalam setahun terakhir, meninggalkan kapitalisasi pasar hanya US$388 juta. Padahal saat melantai di bursa pada Februari 2021, valuasi perusahaan sempat menembus US$7 miliar. Whitney Wolfe Herd, pendiri Bumble yang juga mantan eksekutif Tinder, kembali menjabat sebagai CEO pada Maret 2025 setelah sebelumnya mundur pada 2023.
Bagi pasar Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat akan dinamika industri aplikasi kencan yang kian kompetitif. Meski Bumble belum secara resmi meluncurkan layanan di Indonesia, platform serupa seperti Tinder dan berbagai aplikasi lokal telah menguasai pangsa pasar. Tren kelelahan pengguna terhadap aplikasi kencan, terutama di kalangan generasi muda, juga mulai terasa di Tanah Air. Analis menilai bahwa model monetisasi yang agresif dan berkurangnya diferensiasi fitur menjadi faktor utama penurunan minat.
Keunggulan kompetitif Bumble yang dulu dibanggakan—konsep 'women-first' dengan moto "Built for Women, Better for Everyone"—kini dianggap kurang relevan oleh para analis. Perubahan perilaku pengguna dan menjamurnya aplikasi kencan alternatif membuat posisi Bumble semakin terdesak. Upaya diversifikasi melalui Bumble For Friends (jejaring sosial) dan Bumble Bizz (koneksi profesional) belum memberikan kontribusi berarti terhadap pendapatan perusahaan.
Di sisi lain, pesaing utama Bumble, Match Group—induk dari Tinder, OkCupid, dan Hinge—juga mengalami perlambatan pertumbuhan, namun berhasil meningkatkan nilai pasarnya sekitar 12% dalam setahun terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi Bumble lebih bersifat struktural daripada sekadar siklus industri.
Belum ada kepastian apakah proses penjualan akan membuahkan hasil. Sumber menyebutkan bahwa Bumble masih bisa memutuskan untuk tetap independen jika tidak ada tawaran yang menarik. Namun, dengan tekanan dari pemegang saham utama Blackstone yang mulai melepas sebagian kepemilikannya, masa depan Bumble sebagai perusahaan publik kian tidak menentu. Pertanyaan besarnya: akankah ada pembeli yang bersedia mengambil alih Bumble dengan valuasi yang jauh lebih rendah dari puncak kejayaannya?



