SpaceX Masuk Indeks Russell, Pasar Bersiap Hadapi Volatilitas Ekstrem
Baca dalam 60 detik
- Saham SpaceX akan ditambahkan ke indeks Russell setelah penutupan perdagangan Jumat, memicu pembelian besar-besaran oleh dana pasif.
- Harga saham SpaceX telah melonjak 67% sejak IPO, namun masih merugi US$4,9 miliar tahun lalu, menimbulkan perdebatan soal valuasi.
- Penambahan ini berpotensi menyebabkan 'squeeze' di menit-menit akhir perdagangan, mengingat hanya 5% saham yang beredar bebas.

Jumat ini menjadi ujian berat bagi saham SpaceX. Perusahaan antariksa milik Elon Musk akan resmi masuk dalam indeks Russell AS setelah perdagangan berakhir, memicu gelombang pembelian besar-besaran dari dana indeks yang mengelola triliunan dolar. Langkah ini diprediksi menambah tekanan pada harga saham yang sudah sangat fluktuatif sejak debutnya di bursa bulan ini.
Sejak IPO spektakuler pada awal Juni, saham SpaceX melesat 67% ke puncak intraday US$225,64 pada 16 Juni, sebelum merosot ke US$153 pada penutupan Kamis. Meski masih jauh di atas harga IPO US$135, perjalanan saham ini mencerminkan dilema investor: bagaimana menilai perusahaan yang tahun lalu membukukan kerugian US$4,9 miliar, namun diyakini bakal mendominasi pasar internet satelit, kecerdasan buatan, dan peluncuran komersial antariksa dalam dekade mendatang.
FTSE Russell, penyusun indeks, akan memasukkan SpaceX dalam indeks AS-nya sebagai bagian dari rekonstitusi semi-tahunan. Dana yang melacak indeks seperti iShares Russell 1000 ETF wajib membeli saham SpaceX. Proses ini biasanya terjadi di menit-menit akhir perdagangan saat manajer dana berusaha meminimalkan selisih harga beli dengan harga penutupan. Jefferies memperkirakan dana pasif perlu membeli hampir US$3 miliar saham SpaceX, yang bisa memicu squeeze karena pasokan terbatas. Namun, data opsi menunjukkan volatilitas yang diperkirakan hanya 3,6%.
SpaceX juga akan masuk ke Nasdaq 100 pada Juli, memaksa dana seperti Invesco QQQ ETF untuk ikut membeli. Namun, S&P Global menolak memasukkan SpaceX ke S&P 500 karena aturan profitabilitas: perusahaan harus untung dalam kuartal terakhir dan empat kuartal terakhir. SpaceX masih merugi. Sebagai perbandingan, saat Tesla masuk S&P 500 pada 2020, terjadi squeeze penutupan yang mendorong saham naik 6%.
Bagi investor Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat pentingnya memahami likuiditas dan valuasi saat berinvestasi di saham pertumbuhan tinggi. Meski SpaceX digadang-gadang sebagai calon penguasa infrastruktur global, kerugian besar dan valuasi selangit membuatnya sangat rentan terhadap aksi ambil untung. Pasar Indonesia pun kerap mengalami gejolak serupa saat saham teknologi masuk indeks utama, meski dalam skala lebih kecil.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah SpaceX mampu membuktikan profitabilitas dalam waktu dekat, ataukah valuasi setinggi langit ini hanya gelembung yang siap pecah. Dengan masuknya ke dua indeks besar, tekanan pada manajemen untuk menunjukkan hasil nyata semakin besar. Akankah Elon Musk kembali memainkan keajaibannya seperti saat Tesla?



