Zuckerberg Garap Aplikasi Pasar Prediksi Ala Polymarket, Ini Rencana Meta
Baca dalam 60 detik
- Meta diam-diam mengembangkan aplikasi prediksi bernama Arena yang mirip Polymarket, namun untuk tahap awal menggunakan sistem poin tanpa uang sungguhan.
- Langkah ini memanfaatkan basis pengguna harian Meta yang mencapai 3,56 miliar untuk mendorong adopsi, meski pasar prediksi global diperkirakan bernilai US$1 triliun pada 2030.
- Potensi masuknya Meta ke ranah ini membuka peluang sekaligus risiko regulasi, terutama di Indonesia yang belum memiliki kerangka hukum jelas untuk kontrak prediksi.

Mark Zuckerberg, bos Meta Platforms, secara pribadi memerintahkan tim kecil di perusahaannya untuk membangun aplikasi ponsel cerdas yang berfungsi sebagai pasar prediksi—mirip dengan Polymarket atau Kalshi. Langkah ini diungkap oleh The New York Times pada Selasa lalu, mengutip dua karyawan yang mengetahui rencana tersebut.
Aplikasi yang diberi nama sandi "Arena" itu rencananya akan beroperasi secara independen dari jejaring sosial utama Meta seperti Facebook, Instagram, WhatsApp, dan Messenger. Menurut laporan, Arena kemungkinan besar akan menggunakan sistem poin bergaya permainan video alih-alih mempertaruhkan uang sungguhan, meskipun Meta belum menutup kemungkinan untuk mengizinkan taruhan uang riil di kemudian hari.
Langkah ini menandai ekspansi Meta ke ranah yang tengah naik daun. Pasar prediksi meledak popularitasnya selama pemilihan presiden Amerika Serikat 2024 dan telah berevolusi menjadi kelas aset yang memungkinkan investor bertaruh pada berbagai peristiwa—dari kebijakan moneter hingga turnamen olahraga. Platform perdagangan seperti Robinhood dan Interactive Brokers pun telah meluncurkan kontrak peristiwa (event contracts).
Meta berencana memanfaatkan basis pengguna raksasanya untuk mendorong adopsi Arena. Perusahaan melaporkan 3,56 miliar pengguna aktif harian pada April lalu—metrik yang digunakan untuk melacak pengguna unik yang membuka salah satu aplikasi Meta dalam sehari. Dengan jumlah tersebut, Meta memiliki potensi luar biasa untuk mengarahkan lalu lintas ke aplikasi barunya.
Arena bukan satu-satunya aplikasi baru yang diuji Meta. Perusahaan juga mengembangkan Meta Photos, aplikasi mandiri lain yang dirancang untuk menghasilkan bentuk media baru. Ini menunjukkan strategi Meta untuk mendiversifikasi portofolio di luar media sosial tradisional.
Namun, pasar prediksi juga menarik perhatian regulator. Sejumlah transaksi yang terjadi tepat sebelum pengumuman kebijakan mengejutkan Presiden AS Donald Trump diduga menghasilkan keuntungan jutaan dolar bagi pedagang anonim. Hal ini memicu kekhawatiran tentang potensi manipulasi dan insider trading.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka diskusi penting. Meskipun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bappebti telah mengatur perdagangan berjangka dan derivatif, kontrak prediksi berbasis peristiwa belum memiliki kerangka hukum yang jelas. Jika Meta meluncurkan Arena secara global, termasuk di Indonesia, regulator perlu segera menyiapkan aturan untuk melindungi konsumen dan mencegah penyalahgunaan. Di sisi lain, potensi inovasi ini bisa menjadi peluang bagi pengembang lokal untuk menciptakan platform serupa yang sesuai dengan regulasi domestik.
Pertanyaan besarnya: apakah Meta akan benar-benar meluncurkan Arena dengan uang sungguhan, atau tetap pada model poin untuk menghindari jerat regulasi? Jawabannya akan menentukan apakah raksasa teknologi ini siap bertaruh di pasar yang penuh ketidakpastian.



