Dukungan Pemegang Saham untuk CEO Kadokawa Anjlok ke 60% Setelah Kampanye Aktivis
Baca dalam 60 detik
- CEO Kadokawa, Takeshi Natsuno, hanya memperoleh 59,68% suara pemegang saham dalam RUPS tahunan, turun drastis dari 90% tahun lalu, setelah kampanye aktivis yang menuntut pemecatannya.
- Oasis Management, firma aktivis berbasis Hong Kong, menjadi motor utama di balik tekanan terhadap Natsuno, dengan dalih penurunan profitabilitas dan ROE yang merosot dari 9,4% menjadi 0,5%.
- Kasus Kadokawa menjadi peringatan bagi perusahaan Jepang lainnya bahwa kinerja buruk dan valuasi rendah membuat mereka rentan terhadap serangan aktivis, mendorong manajemen untuk lebih proaktif meningkatkan harga saham.

Dukungan pemegang saham terhadap CEO Kadokawa, Takeshi Natsuno, merosot tajam menjadi hanya 59,68% dalam rapat umum tahunan (AGM) perusahaan anime dan gim raksasa Jepang itu, setelah tekanan bertubi-tubi dari investor aktivis yang menginginkannya lengser.
Meskipun Natsuno masih mempertahankan kursi direksi dalam AGM yang digelar Rabu lalu, angka tersebut menandai penurunan signifikan dibandingkan dukungan 90% yang ia terima pada tahun sebelumnya. Perusahaan mengumumkan hasil pemungutan suara pada Kamis, 25 Juni 2026.
Kampanye untuk menyingkirkan Natsuno dipimpin oleh Oasis Management, firma investasi asal Hong Kong yang dikenal agresif dalam mendorong perubahan tata kelola di Jepang. Oasis menunjuk pada penurunan profitabilitas selama masa jabatan Natsuno sebagai alasan utama, dengan didukung oleh penasihat proxy yang juga merekomendasikan pemegang saham untuk menolak pemilihan kembali sang CEO.
Fenomena ini bukanlah kasus terisolasi. Di Jepang, gelombang aktivisme pemegang saham semakin menguat, dengan investor berani menuntut pergantian eksekutif puncak sebagai bentuk protes atas kinerja perusahaan yang buruk. Oasis sendiri sebelumnya berhasil menyingkirkan CEO Taiyo Holdings tahun lalu, meskipun upaya serupa terhadap chairman Kyocera dan presiden Cawachi belum membuahkan hasil.
Kadokawa, yang terkenal dengan waralaba anime dan gim seperti "Sword Art Online" dan "Elden Ring", mengakui adanya masalah internal. Perusahaan menyebut ketergantungan berlebihan pada subgenre isekai—di mana karakter dipindahkan ke dunia fantasi—di divisi penerbitan, serta meningkatnya biaya produksi anime, sebagai faktor yang menekan profitabilitas. ROE perusahaan yang hanya 0,5% pada tahun fiskal terakhir, dibandingkan 9,4% pada tahun yang berakhir Maret 2022, menjadi bukti nyata penurunan kinerja.
Menanggapi tekanan, manajemen Kadokawa berjanji akan meninjau struktur manajemen, kompensasi eksekutif, dan kemajuan rencana bisnis jangka menengah. Namun, dewan direksi sebelumnya menolak desakan untuk memecat Natsuno, dengan alasan ketiadaan pengganti yang jelas dan rencana transisi yang matang justru akan menimbulkan ketidakpastian.
Analis Travis Lundy dari Smartkarma menilai bahwa Kadokawa berada di bawah tekanan kuat untuk melakukan perubahan secara proaktif. "Melihat apa yang terjadi di Kadokawa, manajer perusahaan lain akan waspada. Pertahanan terbaik melawan aktivis adalah harga saham yang tinggi, sehingga mereka akan melakukan apa pun untuk membuat saham mereka lebih mahal," ujar Lundy.
Bagi Indonesia, kasus Kadokawa menjadi pengingat bahwa tekanan investor aktivis tidak hanya terjadi di pasar maju. Di tengah meningkatnya minat investor global terhadap pasar Asia, perusahaan-perusahaan Indonesia—terutama yang terdaftar di bursa dan memiliki valuasi rendah—juga perlu mewaspadai potensi gelombang serupa. Peningkatan tata kelola, transparansi, dan kinerja keuangan menjadi kunci untuk mempertahankan kepercayaan pemegang saham dan menghindari campur tangan aktivis.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Kadokawa mampu membalikkan keadaan dengan memperbaiki fundamental bisnisnya, atau justru akan menjadi sasaran empuk bagi aktivis yang lebih agresif. Langkah konkret perusahaan dalam merealisasikan target ROE 12% akan menjadi ujian kredibilitas manajemen di mata pasar.



