Kuntul Srondol, Ikon Semarang yang Kini Hanya Tinggal Cerita
Baca dalam 60 detik
- Kawanan burung kuntul yang dulu menghuni pohon asam di sekitar Markas Yonif 400 Semarang telah menghilang akibat alih fungsi lahan.
- Peneliti Unnes mencatat populasi kuntul di Bandara Ahmad Yani turun dari 1.000 ekor (2023) menjadi 700 ekor (2025), sementara di Srondol sudah tidak ditemukan lagi.
- Hilangnya habitat alami seperti sawah dan padang rumput menjadi penyebab utama, mengancam status burung yang menjadi motif batik dan ornamen kota ini.

Kawanan burung kuntul srondol yang selama puluhan tahun menjadi pemandangan khas di kawasan Srondol, Semarang, perlahan lenyap. Pohon asam Jawa di sekitar Markas Batalyon Infanteri Raider 400 yang dulu menjadi tempat bertengger ribuan burung kini hanya menyisakan kenangan bagi warga yang merindukan kehadiran mereka.
Suparti, pemilik warung kopi di dekat lokasi, masih ingat betul masa remajanya ketika burung-burung itu datang setiap senja. "Sejak pembangunan dan kota makin padat, lahan sawah semakin berkurang, mungkin mereka pergi," ujarnya. Perubahan itu tidak hanya dirasakan oleh Suparti. Yanto, warga Srondol Kulon, juga mengaku kehilangan. "Dulu naik sepeda sering kena kotoran burung, sekarang malah kangen. Anak zaman sekarang tidak akan paham," kenangnya.
Menurut Margareta Rahayuningsih, profesor biodiversitas Universitas Negeri Semarang, burung kuntul di Srondol sudah tidak lagi terlihat dalam jumlah besar. "Sesekali hanya satu atau dua ekor bertengger sebentar lalu pergi lagi," katanya. Namun, ia mencatat populasi kuntul masih bisa ditemukan di lokasi lain, seperti di sekitar Bandara Ahmad Yani Semarang. Data risetnya menunjukkan jumlah burung di sana menurun dari sekitar 1.000 ekor pada 2023 menjadi 700 ekor pada 2025.
Alih fungsi lahan menjadi penyebab utama hilangnya burung kuntul dari Srondol. "Area yang dulu berupa persawahan dan padang rumput terbuka kini berubah menjadi permukiman, real estat, apartemen, kampus, mal, dan perkantoran," jelas Margareta. Padahal, kawasan itu merupakan tempat mencari makan utama bagi burung-burung tersebut. Pola hidup kuntul srondol sangat bergantung pada ketersediaan lahan basah dan pepohonan untuk bersarang.
Keberadaan burung kuntul di Srondol sudah tercatat sejak era 1980-an. Saat itu, Markas Yonif menjadi tempat berlindung yang aman karena para tentara melarang perburuan. Bahkan, ada cerita warga yang pernah menembak burung kuntul dan dihukum dengan memakan burung itu mentah-mentah. Hukuman tidak tertulis itu membuat warga segan berburu. Namun, perlindungan dari manusia tidak cukup jika habitatnya lenyap.
Burung kuntul srondol bukan sekadar fauna biasa. Ia telah menjadi ikon Kota Semarang, terlihat dari ornamen burung kuntul di berbagai taman dan motif batik Semarangan yang mengabadikannya. Penelitian terbaru juga menunjukkan pentingnya ekosistem mangrove di pesisir Semarang sebagai habitat burung. Studi Amalia Zaida dan Margareta Rahayuningsih pada 2020 menemukan 66 jenis burung di Mangrove Mangunharjo, dengan kuntul kecil mendominasi sebanyak 10,61 persen.
Kepergian burung kuntul dari Srondol menjadi alarm bagi kota-kota lain di Indonesia yang masih memiliki ikon satwa liar. Tanpa ruang terbuka hijau yang memadai, keanekaragaman hayati perkotaan akan terus tergerus. Pertanyaannya, mampukah Semarang mengembalikan kejayaan kuntul srondol, atau ikon ini akan benar-benar tinggal kenangan?



