Pesta Pernikahan Mewah Mulai Ditinggalkan: Pasangan Muda Singapura Pilih Hidup Hemat
Baca dalam 60 detik
- Permintaan pernikahan besar dan mewah di Singapura turun 30% dalam tiga tahun terakhir, dengan rata-rata jumlah tamu menyusut dari 300 menjadi 100 orang.
- Pasangan kini mengalihkan anggaran ke perumahan, keluarga, dan perjalanan, serta memilih destinasi luar negeri seperti Bali dan China yang lebih terjangkau.
- Industri pernikahan beradaptasi dengan paket kustom, kemitraan baru, dan layanan media sosial, namun tetap optimistis karena permintaan akan pengalaman bermakna masih kuat.

Pasangan muda di Singapura semakin enggan menghamburkan uang untuk pesta pernikahan mewah. Tekanan biaya hidup dan prioritas keuangan jangka panjang mendorong mereka memangkas anggaran secara drastis, bahkan hingga 90 persen dari rencana awal.
Seraphiliz Peng dan Lewis Tan, misalnya, awalnya membayangkan pesta bertema Disney dengan biaya mencapai S$100 ribu. Namun, setelah menghitung ulang, mereka memutuskan menggelar resepsi di klub kapal pesiar dengan total hanya S$10 ribu. Pasangan itu mengerjakan sendiri dekorasi, kado tamu, dan gaun pengantin yang dimodifikasi. "Kami ingin memasuki pernikahan dengan kondisi finansial yang kuat," kata Peng kepada CNA.
Fenomena ini bukan sekadar cerita individu. Para perencana pernikahan melaporkan penurunan permintaan pesta besar hingga 30 persen dalam tiga tahun terakhir. Rata-rata jumlah tamu pernikahan etnis Tionghoa merosot dari 300 orang sebelum pandemi menjadi sekitar 100 orang saat ini. Pengeluaran untuk pesta besar juga turun dari S$80 ribu menjadi S$40 ribu. Banyak pasangan bahkan memilih menikah di luar negeri seperti Bintan, Batam, atau Bali yang biayanya bisa 20 persen lebih murah.
Pergeseran ini juga terlihat pada alokasi anggaran. Trina Ng, direktur penyedia tempat pernikahan Melayu Lagun Sari, mengamati bahwa pasangan muda kini lebih banyak membelanjakan uang untuk perumahan, bulan madu, atau hal-hal yang relevan secara pribadi. "Mereka menyadari bahwa pernikahan yang lebih kecil dan intim tetap bisa menciptakan pengalaman yang tak terlupakan," ujarnya. Lagun Sari bahkan menggandakan jumlah mitra venue dari dua atau tiga menjadi setidaknya delapan untuk menawarkan paket yang lebih fleksibel.
Hotel-hotel pun ikut beradaptasi. Crowne Plaza Changi Airport, misalnya, memperluas layanan dari yang semula fokus pada pernikahan Tionghoa ke pernikahan Melayu dan India. Manajer umum Greg Gubiani mengatakan pihaknya bekerja sama dengan perencana pernikahan untuk menciptakan solusi satu atap, termasuk menyesuaikan menu dan ruang acara sesuai keinginan pasangan. Hotel itu juga memanfaatkan lokasi di bandara untuk menawarkan sesi foto di Canopy Park Jewel Changi atau kamar dengan pemandangan pesawat lepas landas.
Meski anggaran mengecil, industri pernikahan tetap optimistis. Uang yang dihemat dari tamu dan venue sering dialihkan untuk pengalaman yang lebih berkesan, seperti stasiun makanan langsung, bilik foto, dan pembawa acara profesional. Media sosial juga menjadi pendorong pengeluaran: permintaan akan fotografi, videografi, dan konten instan seperti same-day edit atau reel semakin tinggi. "Pasangan sekarang sangat cerdas. Sebelum menghubungi Anda, mereka sudah membaca Google Review," kata Alex Tan, pendiri The Wedding Guru Singapore. Menurutnya, kunci bisnis ke depan bukan lagi bersaing harga, melainkan menunjukkan nilai yang jelas.
Di Indonesia, tren serupa mulai terlihat di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Biaya hidup yang meningkat dan prioritas pada properti mendorong pasangan muda untuk lebih realistis. Namun, industri pernikahan dalam negeri masih didominasi pesta besar dengan ratusan tamu. Apakah pergeseran gaya hidup ala Singapura akan menular ke Indonesia? Ataukah tradisi dan tekanan sosial masih akan mempertahankan pesta mewah sebagai standar?



