Erosi Deterensi Negara Besar Picu Petualangan Baru: Peringatan Menteri Pertahanan Singapura
Baca dalam 60 detik
- Menteri Pertahanan Singapura Chan Chun Sing memperingatkan bahwa melemahnya efek gentar negara adidaya mendorong aktor negara dan non-negara untuk bertindak agresif.
- Konflik Timur Tengah menunjukkan bahwa pihak yang lemah secara konvensional dapat melawan yang kuat dengan teknologi asimetris seperti drone bersenjata.
- Chan menekankan pentingnya memperbarui UNCLOS untuk melindungi infrastruktur bawah laut dan mencegah eskalasi di jalur laut strategis.

Melemahnya efek gentar yang selama ini dijaga oleh negara-negara besar berpotensi memicu tindakan agresif dari berbagai pihak, menjadikan dunia semakin tidak aman. Peringatan ini disampaikan Menteri Pertahanan Singapura, Chan Chun Sing, dalam konferensi tahunan Middle East Institute pada Selasa (23/6). Menurutnya, tatanan internasional berbasis aturan yang selama puluhan tahun ditopang oleh proyeksi kekuatan negara adidaya kini mulai tergerus.
Chan menunjuk pada konflik-konflik terkini di Timur Tengah sebagai contoh nyata. "Aktor yang secara konvensional dianggap lemah ternyata mampu menahan lawan yang lebih kuat melalui perang asimetris, termasuk penggunaan teknologi baru yang terjangkau dan mudah diskalakan seperti drone bersenjata," ujarnya. Fenomena ini, kata Chan, tidak hanya terjadi di Timur Tengah, melainkan juga terlihat dalam senjatisasi rantai pasok ekonomi dan bahkan geografi untuk menyandera dunia.
Banyak negara dan aktor non-negara, termasuk yang berada di luar Timur Tengah, diprediksi akan mengamati dan mengambil pelajaran dari perkembangan ini. "Mereka yang ingin memanfaatkan ketidakpastian untuk memicu ketidakstabilan dan kekacauan demi mencapai tujuan sendiri pasti akan merasa terdorong," tambah Chan. Transisi semacam ini, menurutnya, berbahaya dan menantang bagi semua pihak.
Chan juga menyoroti pentingnya menjaga hukum internasional, khususnya United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS), di tengah kekhawatiran gangguan pada titik-titik rawan maritim seperti Selat Hormuz. "Menjaga jalur laut tetap terbuka bukan sekadar masalah prinsip atau kepatuhan pada hukum internasional. Ini adalah kepentingan pribadi yang tercerahkan bagi semua pemangku kepentingan, mengingat jalur ini membawa arus perdagangan, energi, dan data yang kritis," tegasnya.
Dalam sesi tanya jawab, Chan ditanya apakah UNCLOS perlu diperbarui. Ia menjawab bahwa pembaruan diperlukan untuk mengakomodasi perkembangan yang belum ada saat konvensi dirundingkan. "Jalur air kritis di dunia saat ini tidak hanya membawa perdagangan, tetapi juga elektron dan data," katanya, merujuk pada pentingnya kabel bawah laut yang membawa komunikasi digital dan listrik. Chan menyebut upaya Singapura dalam Dialog Shangri-La baru-baru ini untuk mengumpulkan negara-negara sepaham guna memperkuat perlindungan infrastruktur bawah laut yang kritis.
Menyinggung situasi di Timur Tengah dan implikasinya bagi Singapura, Chan mengingatkan agar tidak terburu-buru mengambil kesimpulan jangka pendek. Ia menegaskan bahwa Singapura tidak pernah berasumsi akan ada pihak yang datang menyelamatkan jika terjadi masalah. "Kami percaya bahwa jika kami ingin menjadi tuan atas nasib kami sendiri, kami harus bertanggung jawab untuk itu," ujarnya. Oleh karena itu, Singapura terus berinvestasi dalam pertahanan, tidak hanya dari segi anggaran, tetapi juga alokasi sumber daya manusia, bakat, dan waktu dari seluruh populasi.
Namun, Chan mengingatkan bahwa bahaya terbesar dalam keamanan internasional bukanlah sekadar persoalan kekuatan militer. "Bahaya terbesar bukan hanya tentang kemampuan. Ini tentang niat, dan apakah orang membaca niat dengan benar," katanya. Ketika dunia dalam keadaan fluks dan orang tidak jelas tentang niat satu sama lain, atau salah memperhitungkan niat dan kemampuan, dunia menjadi berbahaya. Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa persepsi dan interpretasi yang salah dapat memicu eskalasi yang tidak diinginkan, bahkan ketika tidak ada perubahan nyata dalam keseimbangan kekuatan.



