Survei Kepercayaan Publik ke Polri Tembus 82,4 Persen, Komisi III Ingatkan Jangan Euforia
Baca dalam 60 detik
- Survei Litbang Kompas April 2026 mencatat kepercayaan publik terhadap Polri naik ke 82,4 persen, dari 76,2 persen pada 2025.
- Ketua Komisi III DPR Habiburokhman mengapresiasi capaian itu, namun meminta Polri tidak cepat puas dan terus membenahi kekurangan.
- Kenaikan citra dan kepuasan publik dinilai sebagai hasil pendekatan humanis dan respons cepat Polri di lapangan.

Ketua Komisi III DPR Habiburokhman mengingatkan jajaran Kepolisian RI untuk tidak larut dalam euforia setelah survei Litbang Kompas terbaru menunjukkan tingkat kepercayaan publik terhadap institusi Polri melonjak menjadi 82,4 persen. Dalam keterangan tertulis, Jumat (26/6), ia menegaskan bahwa angka tersebut harus dijadikan vitamin untuk terus berbenah, bukan alasan berpuas diri.
Survei yang digelar pada 9β18 April 2026 dengan melibatkan 1.200 responden di 38 provinsi itu mencatat kenaikan signifikan di tiga indikator utama: kepercayaan publik naik 6,2 poin persen dibanding 2025 (76,2 persen), kepuasan terhadap layanan Polri meningkat dari 65,1 persen menjadi 67,6 persen, dan citra kelembagaan melesat dari 64,4 persen ke 71,5 persen. Margin of error survei ini 2,83 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.
Habiburokhman menilai lonjakan ini bukan sekadar angka statistik, melainkan cerminan kerja nyata personel Polri di lapangan. Menurutnya, pendekatan humanis yang kini lebih mengedepankan persuasi dan solusi, bukan sekadar represi, menjadi kunci perubahan persepsi masyarakat. "Polisi kini lebih dekat, lebih ramah, dan lebih cepat merespons aduan warga. Perubahan kultur ini yang membuat masyarakat merasa aman dan nyaman," ujarnya.
Di bawah komando Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Polri dinilai berhasil mengubah wajah penegakan hukum yang lebih mengayomi. Habiburokhman menyebut dedikasi personel dari Mabes hingga bhabinkamtibmas di desa-desa menjadi ujung tombak yang dirasakan langsung oleh publik. "Mereka hadir saat masyarakat membutuhkan, dan publik melihat serta merasakan kerja keras itu," kata politikus Fraksi Gerindra itu.
Meski demikian, Komisi III mendorong Polri untuk tidak berhenti di titik ini. Masih ada pekerjaan rumah seperti peningkatan profesionalisme, transparansi, dan penanganan kasus-kasus sensitif yang membutuhkan perbaikan berkelanjutan. "Jadikan hasil survei ini sebagai motivasi untuk mempertahankan prestasi, memperbaiki kekurangan yang masih ada, dan terus konsisten menjadi pelindung serta pengayom masyarakat Indonesia," tegas Habiburokhman.
Ke depan, tantangan Polri adalah menjaga momentum kepercayaan publik di tengah dinamika sosial dan politik yang terus berubah. Akankah pendekatan humanis ini mampu bertahan dan menjadi standar baru kepolisian Indonesia? Publik menanti konsistensi di lapangan.



