Johnny Knoxville Tutup Buku Jackass: 16 Gegar Otak dan Ancaman Kematian Jadi Titik Akhir
Baca dalam 60 detik
- Bintang Jackass, Johnny Knoxville, memutuskan pensiun dari aksi ekstrem setelah mengalami 16 gegar otak dan nyaris tewas dalam empat insiden terpisah.
- Keputusan ini dipicu oleh peringatan keras dari ahli saraf dan janji kepada istri serta tiga anaknya untuk tidak lagi melakukan aksi berisiko tinggi.
- Meski pensiun dari stunt, Knoxville berencana mengembangkan karier akting dan membocorkan ide film heist bersama para pemain Jackass.

Johnny Knoxville, ikon aksi ekstrem yang dikenal lewat waralaba Jackass, memutuskan untuk menggantung sepatu stunt-nya selamanya. Keputusan ini diambil setelah ia mengalami setidaknya empat kali insiden yang hampir merenggut nyawanya, termasuk gegar otak ke-16 yang membuatnya lumpuh secara mental selama enam bulan.
Dalam wawancara terbaru, aktor berusia 55 tahun itu mengungkapkan bahwa film terbaru bertajuk Jackass: Best and Last akan menjadi penutup perjalanan panjangnya di dunia stunt. "Ada setidaknya empat kali saya hampir mati," ujarnya, menggambarkan betapa tipisnya batas antara hidup dan mati dalam setiap aksi yang ia lakukan.
Puncak dari semua itu terjadi pada 2022, ketika ia terlempar oleh seekor banteng saat syuting. Insiden itu menyebabkan gegar otak ke-16 yang mengirimnya ke jurang depresi. "Itu mengerikan. Saya hanya terpaku pada pikiran buruk yang bukan fisik," kenangnya. Berkat terapi, obat-obatan, dan dukungan teman-teman, ia perlahan pulih dan kini sudah lepas dari pengobatan.
Keputusan pensiun ini juga dipicu oleh peringatan keras dari ahli saraf yang menasihatinya untuk mengurangi risiko. Knoxville pun berjanji kepada istri, Emily Ting, dan ketiga anaknya—dari dua pernikahan sebelumnya—untuk "tidak akan pernah melakukan aksi yang berisiko gegar otak lagi." Ia bersyukur anak-anaknya tidak tertarik mengikuti jejaknya. "Semua anak saya menganggap Jackass lucu, tapi syukurlah tidak ada yang ingin melakukan hal seperti itu," katanya.
Ketergantungan Knoxville pada aksi berbahaya sudah berlangsung lama. Saat syuting Jackass Number Two, rekan-rekannya bahkan harus melakukan intervensi karena ia terobsesi dengan lompat ski. "Mereka bilang, 'Tolong berhenti—kami sudah punya cukup rekaman. Ide-ide besarmu hanya akan berakhir bencana," kenangnya.
Kini, dengan masa stunt di belakangnya, Knoxville berencana fokus pada karier akting. Ia mengaku dalam kondisi fisik yang prima dan bahkan berencana membuat film naskah bersama para pemain Jackass. "Kami bisa membuat film heist yang hebat. Jika ada kelompok yang paling tidak cocok untuk melakukan perampokan, itulah kami," candanya. Namun, ia mengakui bahwa menonton aksi stunt orang lain kini membuatnya emosional. "Saya melihat video seseorang tertabrak dan saya jadi terharu. Saya berharap itu adalah saya," pungkasnya.
Keputusan Knoxville untuk pensiun dari stunt bukan hanya menandai akhir sebuah era bagi penggemar Jackass di Indonesia, tetapi juga menjadi pengingat akan risiko jangka panjang dari aksi ekstrem. Di tengah maraknya konten daring yang meniru gaya Jackass, pesan Knoxville tentang pentingnya keselamatan dan kesehatan mental patut direnungkan. Akankah generasi baru stuntman belajar dari pengalamannya, atau justru terus menantang batas?



