Mirip Buronan, Aktor Preman Pensiun Dikeplak dan Diinterogasi Warga
Baca dalam 60 detik
- Aditya Pratama Putra, pemeran Arman di serial Preman Pensiun, menjadi korban salah identifikasi karena wajahnya disebut mirip Taufik Hidayat, buronan kasus penyekapan dan penganiayaan.
- Akibat kemiripan tersebut, Adit mengalami intimidasi publik, termasuk ditarik bajunya di minimarket dan dikeplak oleh seorang ibu-ibu saat membeli nasi goreng.
- Kekhawatiran akan keselamatan mendorong Adit membuat video klarifikasi, sekaligus mendesak aparat segera menangkap pelaku asli yang telah meresahkan masyarakat.

Seorang aktor yang pernah membintangi serial televisi Preman Pensiun, Aditya Pratama Putra, harus menanggung beban psikologis setelah wajahnya dianggap identik dengan Taufik Hidayat, terduga pelaku penyekapan dan penganiayaan seorang perempuan di Kabupaten Bandung yang kini masuk daftar pencarian orang (DPO). Bukan sekadar gunjingan, kesalahan identifikasi ini berujung pada tindakan fisik yang dialami Adit di ruang publik.
Kasus yang mencuat pekan lalu itu bermula dari viralnya foto Taufik Hidayat di media sosial. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bahkan mengumumkan sayembara berhadiah Rp250 juta bagi siapa pun yang dapat memberikan informasi akurat tentang keberadaan buronan tersebut. Sayembara itu justru memicu gelombang kecurigaan warga terhadap siapa pun yang dianggap mirip dengan foto tersangka.
Adit mengaku awalnya tidak terlalu menanggapi unggahan-unggahan yang menampilkan foto Taufik. Namun, teman-temannya mulai mengirim pesan dan menandai akunnya, bercanda soal kemiripan wajah. "Saya kira hanya candaan," ujarnya, Selasa (23/6). Perlahan, suasana berubah ketika ia mulai merasakan tatapan sinis dari orang-orang di sekitarnya saat berada di tempat umum.
Puncaknya terjadi saat Adit berbelanja di sebuah minimarket. Seorang bapak-bapak tiba-tiba menarik bajunya dari belakang dan bertanya dalam bahasa Sunda, "Didinya DPO?" Adit yang terkejut langsung menunjukkan kartu identitas untuk membuktikan dirinya bukan buronan. Meski akhirnya sang bapak meminta maaf, kejadian serupa kembali terulang pada malam harinya. Saat membeli nasi goreng bersama istri, seorang ibu-ibu tiba-tiba mengeplak kepalanya tanpa sepatah kata pun lalu pergi. "Mungkin dia mengira saya DPO juga," kata Adit sambil tertawa getir.
Meski tidak mengalami luka fisik serius, kekhawatiran Adit meningkat seiring dengan sorotan nasional terhadap kasus ini. Ia khawatir kesalahan identifikasi bisa berujung pada tindakan main hakim sendiri. Atas dasar itu, ia memutuskan membuat video klarifikasi yang diunggah ke media sosial. Dalam video tersebut, ia membeberkan kronologi kejadian dan menegaskan bahwa dirinya bukanlah Taufik Hidayat. "Saya bikin video karena khawatir. Dua kali hampir salah sasaran, walaupun tidak ada kekerasan fisik yang keras," jelasnya.
Kasus penyekapan yang melatarbelakangi perburuan ini sendiri sangat serius. Seorang perempuan dilaporkan hilang oleh keluarganya sejak lebih dari tiga tahun lalu. Ia diduga disekap oleh kekasihnya, TH, di sebuah indekos di Cileunyi, Kabupaten Bandung, dan mengalami penganiayaan selama masa penyekapan. Hingga kini, polisi masih memburu Taufik Hidayat yang telah ditetapkan sebagai tersangka.
Kejadian yang menimpa Adit menjadi pengingat akan bahaya kesalahan identifikasi di era digital, terutama ketika informasi beredar cepat tanpa verifikasi. Di Indonesia, kasus salah tangkap atau salah sasaran akibat kemiripan wajah bukanlah hal baru, namun seringkali menimbulkan trauma bagi yang mengalaminya. Adit berharap pelaku asli segera tertangkap agar kasus ini tuntas dan korban mendapat keadilan. "Pelaku ini sudah cukup meresahkan se-Indonesia," katanya. Pertanyaannya, akankah aparat mampu menangkap buronan sebelum lebih banyak orang menjadi korban salah sangka?



