Deniz Undav: Dari Divisi Tiga Jerman Jadi Pahlawan Super-Sub di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Deniz Undav mencetak tiga gol dan dua assist dalam dua laga Piala Dunia 2026, termasuk gol kemenangan injury time melawan Pantai Gading.
- Enam tahun lalu ia bermain di kasta ketiga Jerman; kini ia menjadi senjata rahasia Jerman yang mengubah nasib tim setelah gagal di fase grup 2018 dan 2022.
- Pelatih Julian Nagelsmann masih mempertimbangkan apakah akan memainkan Undav sebagai starter melawan Ekuador atau tetap mempertahankannya sebagai pemain pengganti.

Enam tahun lalu ia masih berlaga di divisi tiga Jerman, kini Deniz Undav menjadi momok bagi lawan-lawannya di Piala Dunia 2026. Penyerang VfB Stuttgart itu mencetak gol penentu kemenangan pada menit injury time saat Jerman menekuk Pantai Gading 2-1 di Toronto, melengkapi catatan apiknya yang sudah mengemas tiga gol dan dua assist hanya dalam dua pertandingan.
Perjalanan Undav sungguh tak biasa. Pada 2020, ia masih memperkuat SV Meppen di 3. Liga Jerman. Setahun kemudian, ia pindah ke Royal Union Saint-Gilloise di Belgia, lalu menarik perhatian Brighton & Hove Albion. Setelah semusim di Premier League, ia kembali ke Jerman dan bergabung dengan VfB Stuttgart pada 2023—awalnya sebagai pinjaman sebelum dipermanenkan. Musim lalu, ia mencetak 25 gol dan 14 assist dalam 46 pertandingan kompetitif bersama Stuttgart, plus membawa klubnya menjuarai Piala Jerman 2025.
Bagi Jerman, kehadiran Undav sebagai super-sub menjadi angin segin setelah dua edisi Piala Dunia sebelumnya (2018 dan 2022) mereka tersingkir di fase grup. Kini, pelatih Julian Nagelsmann dihadapkan pada dilema: mempertahankan Undav di bangku cadangan atau memberinya tempat sebagai starter saat menghadapi Ekuador pada laga pamungkas Grup E, yang sudah dipastikan dimenangi Jerman.
Nagelsmann sendiri mengakui ada dua sisi yang harus dipertimbangkan. "Kami akan mendiskusikan kedua opsi, termasuk dengan Deniz," ujarnya. "Kamu bisa bilang: 'Mengapa saya harus menghentikan momentumnya?' Dia masuk sebagai pemain pengganti dua kali dan mencetak gol dua kali. Tapi kamu juga bisa bilang: 'Penampilan yang luar biasa—dia juga bisa bermain sejak awal.'" Pelatih asal Jerman itu juga menyoroti fleksibilitas Undav yang bisa bermain sebagai gelandang serang (nomor 10) tanpa mengubah formasi tim.
Dari sudut pandang psikologis, memiliki pemain tajam di bangku cadangan bisa menjadi keunggulan tersendiri. "Dia sangat senang dengan perannya saat ini karena tahu dia memainkan peran kunci," kata Nagelsmann. Namun, dengan Jerman sudah lolos, laga melawan Ekuador bisa menjadi ajang uji coba untuk melihat apakah Undav mampu tampil konsisten sebagai starter.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Undav memberikan pelajaran berharga tentang kerja keras dan kesabaran. Perjalanannya dari divisi tiga hingga menjadi pahlawan di Piala Dunia membuktikan bahwa talenta bisa muncul dari mana saja. Di tengah gencarnya pembinaan usia muda di Indonesia, kisah seperti Undav bisa menjadi inspirasi bagi pemain lokal yang mungkin belum mendapat sorotan.
Pertanyaan besarnya: akankah Nagelsmann mempertahankan formula super-sub yang sudah terbukti, atau memberanikan diri menurunkan Undav sejak menit awal? Satu hal yang pasti, jika Undav terus mencetak gol, bukan tidak mungkin ia akan menjadi starter di babak gugur—dan siapa tahu, pada hari ulang tahunnya yang ke-30, 19 Juli 2026, ia bisa merayakan gelar juara dunia di New York New Jersey Stadium.



