Yordania Tersingkir dari Piala Dunia: Pelatih Bangga Meski Kalah dari Aljazair
Baca dalam 60 detik
- Yordania gagal melaju ke babak selanjutnya setelah dua kekalahan beruntun di Grup J, termasuk 1-2 dari Aljazair.
- Pelatih Jamal Sellami menilai minimnya pengalaman menjadi faktor utama, terutama saat kebobolan dari dua sepak pojok.
- Laga melawan Argentina di laga pamungkas dianggap sebagai kesempatan untuk meninggalkan kesan positif bagi sepak bola Yordania.

Kekalahan 1-2 dari Aljazair di Stadion San Francisco Bay Area pada Senin (24/6) memastikan langkah Yordania terhenti di Piala Dunia 2026. Meski demikian, pelatih Jamal Sellami menegaskan rasa bangganya terhadap perjuangan para pemain yang baru pertama kali merasakan panggung akbar sepak bola dunia.
Yordania harus mengakui keunggulan Aljazair setelah sebelumnya juga takluk 1-3 dari Austria. Dua kekalahan beruntun di Grup J membuat tim berjuluk Al-Nashama itu gagal melanjutkan petualangan. Sellami mengakui bahwa faktor pengalaman menjadi pembeda, terutama saat timnya kebobolan dua gol dari situasi sepak pojok pada babak kedua.
โTim Aljazair melakukan pergantian pemain yang mengubah jalannya pertandingan. Mereka memiliki pemain depan yang sangat tinggi. Saya pikir kurangnya pengalaman kami membuat mereka bisa mencetak gol dari dua sepak pojok, saat kami justru menunggu momen cooling break untuk melakukan rotasi,โ ujar Sellami dalam konferensi pers usai laga.
Meski hasil akhir mengecewakan, Sellami menilai performa timnya jauh lebih baik dibanding laga perdana. โSecara umum, kami bermain hebat dan seharusnya bangga. Pengalaman pertama di Piala Dunia ini lebih baik dari pertandingan pertama,โ katanya. Pelatih asal Maroko itu juga menyebut kunjungan Putra Mahkota Hussein bin Abdullah ke ruang ganti usai laga menjadi suntikan moral bagi para pemain.
Bagi Yordania, laga terakhir melawan Argentina bukan sekadar partai hiburan. Sellami menegaskan timnya akan berjuang untuk meninggalkan kesan positif. โMenghadapi Argentina adalah kesempatan. Kesempatan untuk tampil baik dan meninggalkan jejak yang layak bagi sepak bola Yordania,โ ujarnya.
Kiprah Yordania di Piala Dunia 2026 memang singkat, namun kehadiran mereka di putaran final untuk pertama kalinya telah mencatat sejarah. Bagi Indonesia, yang juga tengah berjuang untuk lolos ke Piala Dunia, perjalanan Yordania bisa menjadi pelajaran berharga. Minimnya pengalaman di panggung besar kerap menjadi batu sandungan, namun semangat pantang menyerah dan dukungan penuh dari publik bisa menjadi modal berharga. Pertanyaan besarnya, akankah Indonesia mampu meniru langkah Yordania dalam waktu dekat?



