Lazada PHK 5% Karyawan di Asia Tenggara: Efisiensi atau Gejolak Industri E-Commerce?
Baca dalam 60 detik
- Lazada memangkas 5% tenaga kerja di enam negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sebagai bagian dari penyesuaian bisnis.
- Di Singapura, perusahaan bekerja sama dengan serikat pekerja untuk memastikan proses PHK sesuai aturan dan memberikan dukungan kepada karyawan.
- Langkah ini mengikuti gelombang PHK di Shopee, menandakan tekanan di sektor e-commerce regional yang berimbas pada pasar Indonesia.

Lazada, platform e-commerce milik Alibaba Group, mengumumkan pemangkasan 5% dari total tenaga kerjanya di Asia Tenggara. Keputusan ini diambil di tengah upaya perusahaan untuk merampingkan organisasi dan menyelaraskan sumber daya dengan kebutuhan bisnis terkini, menurut pernyataan resmi yang diterima CNA pada Selasa (23/6).
Langkah ini berdampak pada enam pasar utama Lazada: Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Meski demikian, perusahaan tidak merinci jumlah pasti pekerja yang terkena dampak maupun posisi yang dihapuskan. Yang jelas, ini bukan kali pertama Lazada melakukan efisiensiโpada Januari 2024, perusahaan juga melakukan PHK di Singapura yang memicu kritik dari serikat pekerja karena minimnya konsultasi.
Di Singapura, Lazada menggandeng Food, Drinks and Allied Workers Union (FDAWU) untuk memastikan proses PHK berjalan bertanggung jawab. Sekretaris Jenderal FDAWU, Sankaradass S Chami, menyatakan bahwa serikat telah diberi tahu sebelumnya dan akan mendampingi anggota yang terdampak. Perusahaan memberikan satu tahun masa keanggotaan serikat dan dukungan pelatihan bagi anggota yang di-PHK. FDAWU juga akan menghubungkan mereka dengan jaringan tenaga kerja seperti NTUC Employment and Employability Institute.
Bagi Indonesia, pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggara, PHK Lazada menjadi sinyal perlambatan sektor ini. Persaingan ketat dengan Shopee, Tokopedia, dan pemain lokal lainnya memaksa perusahaan untuk terus menekan biaya. Langkah Lazada mengikuti jejak Shopee yang pada awal Juni 2024 memangkas sekitar 8% tenaga kerja pengembang secara global. Fenomena ini mencerminkan tekanan margin dan pergeseran strategi dari ekspansi agresif ke profitabilitas.
Menurut pengamat industri, PHK massal di dua raksasa e-commerce ini bisa memicu efek domino. Pekerja teknologi di Indonesia, yang banyak terserap di perusahaan rintisan dan platform digital, harus bersiap menghadapi pasar kerja yang semakin ketat. Di sisi lain, konsumen mungkin tidak merasakan dampak langsung, namun perubahan strategi perusahaan bisa memengaruhi layanan dan promosi ke depan.
Lazada menegaskan akan mematuhi peraturan ketenagakerjaan di setiap negara dan memberikan kompensasi sesuai ketentuan. Namun, pertanyaan besar masih menggantung: apakah ini langkah terakhir efisiensi, atau akan ada gelombang PHK lanjutan? Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan persaingan yang kian sengit, industri e-commerce Asia Tenggara tampaknya masih akan terus beradaptasiโdan tidak semua pemain akan selamat.



