Simone Biles Buka Suara soal Insiden Hampir Tewas: Itu Mengubah Perspektif Saya
Baca dalam 60 detik
- Simone Biles mengaku mengalami keadaan darurat medis serius dua pekan lalu yang nyaris merenggut nyawanya.
- Atlet senam legendaris ini merespons kritik atas liburannya dengan menegaskan perjalanan itu bagian dari proses penyembuhan.
- Insiden ini menambah daftar panjang perjuangan mental Biles, yang rutin menjalani terapi untuk menjaga keseimbangan hidup.

Simone Biles, peraih tujuh medali emas Olimpiade, mengungkapkan bahwa pengalaman nyaris meninggal beberapa waktu lalu telah mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Dalam sebuah unggahan di media sosial, atlet berusia 29 tahun itu menanggapi kritik warganet yang mempertanyakan aktivitas liburannya setelah insiden tersebut.
Pada awal Juni, Biles membagikan foto lengannya yang dipenuhi gelang rumah sakit di Instagram Stories. Ia menyebut kejadian itu sebagai salah satu pengalaman paling menakutkan dalam hidupnya. "Hampir mati tidak ada dalam bingo card saya minggu ini," tulisnya kala itu. Suaminya, pemain NFL Jonathan Owens, sedang menjalani latihan pramusim bersama Indianapolis Colts, sehingga Biles harus menjalani masa pemulihan sendirian.
Kritik muncul ketika Biles mengunggah foto liburan bersama Owens. Seorang pengguna Instagram berkomentar, "Hampir mati tapi lihat foto selfie traveling ini...." Menanggapi hal itu, Biles mengaku sedih dan menjelaskan bahwa perjalanan tersebut adalah bagian dari proses penyembuhan. "Dua pekan lebih sedikit yang lalu, saya mengalami keadaan darurat medis serius yang bisa berakhir sangat berbeda. Perjalanan ini membantu saya pulih dan menghargai keberadaan saya di sini," tulisnya.
Biles menekankan bahwa pengalaman mengubah hidup mampu menggeser perspektif seseorang. Ia berharap publik bisa memberikan lebih banyak pengertian kepada orang lain yang sedang berjuang. Unggahan tersebut sontak menuai dukungan dari para penggemar yang mengapresiasi keterbukaannya mengenai kesehatan mental.
Perjalanan Biles dengan kesehatan mental bukanlah hal baru. Setelah meraih emas di Kejuaraan Dunia 2013 pada usia 16 tahun, ia menjadi atlet paling berprestasi di cabang senam. Namun, kesuksesan itu justru menjadi beban. Dalam wawancara dengan Harper's Bazaar Spanyol, Biles mengaku takut mengecewakan orang lain. "Semua orang mengawasi Anda, memberi tahu cara bertindak, cara berbicara. Saya takut mengecewakan mereka," ujarnya. Terapi, menurutnya, menjadi penyelamat—baik sebagai atlet maupun sebagai pribadi. "Merawat pikiran saya menyelamatkan saya," katanya.
Bagi publik Indonesia, kisah Biles menjadi pengingat bahwa tekanan prestasi bisa berdampak serius pada kesehatan mental. Di tengah maraknya budaya kerja keras dan tuntutan kesempurnaan, penting untuk menyadari bahwa istirahat dan perawatan diri bukanlah kelemahan. Biles menunjukkan bahwa bahkan atlet kelas dunia pun perlu waktu untuk pulih, baik secara fisik maupun mental.
Ke depannya, publik masih menanti penjelasan lebih lanjut dari Biles mengenai detail insiden medis yang dialaminya. Namun yang jelas, pengalaman ini telah memperkuat komitmennya untuk terus berbicara terbuka tentang kesehatan mental—sebuah topik yang semakin relevan di tengah tekanan hidup modern.



