Jaguarundi, Kucing Liar dengan 13 Suara, Punah di Texas: Alarm bagi Keanekaragaman Hayati Global
Baca dalam 60 detik
- Jaguarundi, kucing liar yang mampu mengeluarkan 13 jenis suara, dinyatakan punah di Texas pada 2025 setelah 39 tahun tanpa penampakan.
- Anjing domestik dan liar menjadi ancaman tak terduga bagi spesies ini di Brasil, menularkan penyakit mematikan seperti parvovirus.
- Dengan kepadatan populasi sangat rendah, jaguarundi terancam di beberapa negara, namun status globalnya masih 'Least Concern'.

Jaguarundi, spesies kucing liar yang memiliki kemampuan vokal paling kompleks di antara seluruh famili kucing dengan sedikitnya 13 suara berbeda, resmi dinyatakan punah di Texas, Amerika Serikat, pada 2025—sebuah sinyal peringatan bahwa spesies yang tampaknya tersebar luas pun bisa lenyap tanpa disadari.
Kucing berbadan memanjang dengan kepala pipih dan telinga bulat kecil ini sering disangka berang-berang oleh orang awam. Ia bukan kerabat jaguar, melainkan lebih dekat dengan puma, dan aktif di siang hari—kebalikan dari kebanyakan kucing liar. Meski distribusinya membentang dari Meksiko hingga Argentina, menjadikannya felid kecil paling luas sebarannya di Belahan Bumi Barat, jaguarundi justru sangat sedikit dipelajari. Bulu polos tanpa corak membuat identifikasi individu lewat kamera jebakan hampir mustahil, dan statusnya yang dianggap ‘tidak terancam’ oleh IUCN membuat aliran dana riset mengalir ke spesies lain yang lebih populer.
Kepunahan lokal di Texas bukanlah peristiwa terisolasi. Di Brasil, jaguarundi berstatus Rentan (Vulnerable); di Meksiko dan Guatemala, ia terancam. Namun secara global, IUCN masih mengklasifikasikannya sebagai Least Concern—sebuah label yang oleh para penilai sendiri dianggap tidak lagi akurat. Anthony Giordano, direktur S.P.E.C.I.E.S., organisasi konservasi karnivora, dengan sinis mengatakan, “Tidak akan ada yang mau memberi uang untuk meneliti jaguarundi.”
Ancaman paling mengkhawatirkan justru datang dari anjing. Tadeu de Oliveira, profesor di Universitas Negeri Maranhão, Brasil, menyebutnya sebagai “ancaman tak terlihat.” Di Amazon dan Caatinga, anjing domestik dan liar berbagi habitat dengan jaguarundi, menularkan virus mematikan seperti Canine Parvovirus dan Canine Distemper. Deforestasi memang mengurangi semak belukar lebat yang menjadi habitatnya, tetapi penyakit dari anjing kini dianggap sebagai faktor yang lebih sulit dikendalikan.
Para peneliti dari 17 institusi di 13 negara menerbitkan studi di jurnal Diversity and Distributions (2024) dengan mengumpulkan 884 catatan dari hampir 4.000 kamera di lebih dari 650 lokasi. Mereka menghasilkan peta prediktif pertama yang komprehensif: jaguarundi lebih suka medan berbukit dengan vegetasi semak dan dekat kawasan pedesaan, bukan hutan lebat. Artinya, spesies ini hidup di ‘ruang antara’ yang justru paling rentan terhadap aktivitas manusia.
Bagi Indonesia, kisah jaguarundi menjadi pengingat bahwa spesies dengan sebaran luas pun bisa terancam tanpa disadari. Di Indonesia, kucing liar seperti kucing emas (Catopuma temminckii) dan kucing batu (Prionailurus bengalensis) menghadapi tekanan serupa: hilangnya habitat di pinggiran hutan, penyakit dari hewan domestik, dan minimnya perhatian riset. Status ‘Least Concern’ seringkali menyesatkan, karena kepadatan populasi yang rendah bisa berarti jumlah total yang sangat kecil. Pertanyaannya, apakah Indonesia akan menunggu hingga spesiesnya punah di suatu pulau sebelum bertindak?



