Nuri Dahi-Biru Muncul Kembali setelah Satu Abad Menghilang di Pulau Buru
Baca dalam 60 detik
- Ekspedisi di Gunung Kapalatmada, Pulau Buru, berhasil memotret dan merekam suara nuri dahi-biru yang tak pernah tercatat sejak 1920-an.
- Penemuan ini mengonfirmasi bahwa spesies tersebut tidak punah, melainkan bertahan di habitat terpencil yang sulit dijangkau manusia.
- Para konservasionis mendesak survei populasi dan perlindungan habitat segera dilakukan sebelum ancaman perubahan iklim dan perburuan semakin nyata.

Setelah satu abad tanpa kabar, nuri dahi-biru (Charmosynopsis toxopei) akhirnya terlihat kembali di Pulau Buru, Maluku. Seekor burung kecil berbulu hijau dengan semburat biru di kepala itu tertangkap kamera dan terekam suaranya oleh tim ekspedisi yang mendaki Gunung Kapalatmada pada April 2026. Penemuan ini menjadi catatan kedua sejak spesies tersebut pertama kali dideskripsikan pada 1920-an.
John Mittermeier, Direktur Search for Lost Birds American Bird Conservancy, mengaku terkejut saat melihat dua individu burung itu terbang menuju sebuah pohon. “Saya sangat gembira begitu menyadari jenis tersebut adalah nuri dahi-biru,” ujarnya dalam pernyataan resmi, Kamis (4/6/26). Tim yang terdiri dari peneliti lokal dan internasional itu menghabiskan enam hari mendaki medan ekstrem—dari hamparan batu kapur berduri hingga hutan kabut berlumut—sebelum akhirnya menemukan burung yang selama puluhan tahun hanya dikenal dari spesimen museum.
Achmad Ridha Junaid, Biodiversity Conservation Burung Indonesia, menilai penemuan ini mengonfirmasi dua hal: spesies tersebut masih bertahan, dan habitatnya tetap alami bukan karena kebijakan konservasi yang kuat, melainkan karena kondisi geografis yang sulit dijangkau. “Kawasan itu masih sangat alami, karena belum banyak terjamah manusia,” katanya, Selasa (23/6/26). Jalur menuju puncak Gunung Kapalatmada baru berhasil dipetakan oleh pendaki lokal dalam beberapa tahun terakhir, sehingga sebelumnya wilayah itu praktis tidak pernah menjadi lokasi penelitian intensif.
Ketiadaan data ilmiah yang memadai menjadi tantangan besar konservasi di Indonesia. Ridha menjelaskan, perubahan status konservasi nuri dahi-biru menjadi Data Deficient pada 2024 bukan karena populasinya meningkat, melainkan karena informasi tentang ukuran populasi, tren, dan kondisi habitatnya sangat minim. “Kita hampir tidak mengetahui apa-apa tentang spesies ini,” ujarnya. Kondisi ini mencerminkan masalah yang lebih luas: banyak spesies endemik di wilayah terpencil yang belum pernah disurvei secara sistematis.
Benny Siregar, Koordinator Kepulauan Maluku Burung Indonesia, mengingatkan bahwa ancaman terhadap satwa liar di Pulau Buru tetap nyata meskipun sebagian besar hutannya masih alami. Aktivitas pertambangan, ekspansi lahan pertanian, dan konversi hutan menjadi kawasan monokultur berpotensi mengurangi kualitas habitat. Selain itu, perburuan dan perdagangan satwa liar menjadi momok bagi burung paruh bengkok di Maluku. “Spesies yang sangat langka seringkali menarik perhatian kolektor,” katanya, Rabu (24/6/26).
Walid Rumblat, dosen biologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menyoroti kerentanan spesies endemik terhadap perubahan iklim. Ia menjelaskan bahwa banyak satwa dengan habitat spesifik cenderung bergeser ke daerah lebih tinggi saat suhu meningkat. “Bila habitat yang cocok terus bergeser ke atas, suatu saat spesies ini bisa mencapai titik tertinggi gunung dan tidak punya tempat lagi untuk berpindah,” ujarnya, Selasa (23/6/26). Penemuan kembali nuri dahi-biru, menurutnya, harus menjadi momentum untuk memperkuat penelitian jangka panjang, terutama di kawasan Wallacea yang memiliki tingkat endemisitas sangat tinggi.
Langkah mendesak yang direkomendasikan para ahli meliputi survei populasi sistematis, perlindungan habitat berbasis pencegahan, dan pengelolaan ancaman melalui pendekatan berbasis masyarakat. Ridha menekankan pentingnya kampanye kesadaran dan pengembangan alternatif mata pencaharian yang tidak merusak habitat. “Kita harus melakukan kegiatan konservasi yang kita pahami,” tegasnya. Pertanyaannya, akankah penemuan ini mendorong aksi nyata sebelum spesies yang baru ditemukan kembali itu benar-benar terancam punah?



