Malagò Resmi Pimpin FIGC: Conte dan Maldini Jadi Andalan Rekonstruksi Timnas Italia
Baca dalam 60 detik
- Giovanni Malagò terpilih sebagai presiden FIGC, dengan tugas utama merevitalisasi timnas Italia yang tengah terpuruk.
- Antonio Conte dan Paolo Maldini masuk bursa sebagai pelatih dan direktur teknis, kombinasi yang dinilai mampu membawa era baru bagi Azzurri.
- Di luar Italia, Messi memecahkan rekor gol Piala Dunia Klose, sementara bursa transfer Serie A mulai memanas dengan pergerakan Juventus, Inter, dan Lazio.

Giovanni Malagò resmi memimpin Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) setelah memenangi pemilihan presiden, Selasa (23/6). Langkah ini langsung disambut dengan agenda besar: merombak total tim nasional Italia yang tengah kehilangan pamor. Nama Antonio Conte dan Paolo Maldini muncul sebagai kandidat kuat untuk mengisi pos pelatih dan direktur teknis, sebuah duet yang diyakini bisa membangkitkan kembali kejayaan Azzurri.
Koran olahraga terbesar Italia, La Gazzetta dello Sport, menempatkan berita ini di halaman depan dengan tajuk "Giliran Mereka". Menurut laporan tersebut, Malagò tidak punya waktu luang. Kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia 2022 dan performa kurang meyakinkan di Euro 2024 membuat federasi harus bergerak cepat. Conte, yang pernah membawa Italia ke perempat final Euro 2016, dianggap sebagai figur ideal untuk mengembalikan disiplin taktis. Sementara Maldini, legenda AC Milan, diproyeksikan sebagai arsitek pembangunan jangka panjang sepak bola Italia.
Di sisi lain, Tuttosport mengusung tajuk "Giovanni sang Reformis" dan mengutip pernyataan Malagò yang menyebut jabatannya sebagai "aksi cinta dan kegilaan yang sadar". Koran yang berbasis di Turin itu juga menyebut Roberto Mancini masih menjadi kandidat pelatih, meski namanya mulai meredup setelah hasil minor di turnamen terakhir. Namun, mimpi terbesar federasi tetaplah mendatangkan Maldini sebagai direktur teknis—sebuah peran yang belum pernah diemban pria berusia 56 tahun itu sebelumnya.
Sementara perhatian tertuju pada restrukturisasi timnas, gemuruh Piala Dunia 2026 juga tak kalah menggema. Lionel Messi mencetak dua gol ke gawang Austria, membawa koleksinya menjadi 18 gol di ajang Piala Dunia—melewati rekor Miroslav Klose. Koran Corriere dello Sport memberi judul "Leoland" untuk edisi khusus Messi, sementara La Gazzetta memujinya dengan "Messi Pazzesco". Bagi penggemar sepak bola Indonesia, pencapaian Messi ini menjadi pengingat bahwa Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada akan menjadi panggung terakhir bagi megabintang Argentina itu.
Di bursa transfer Serie A, Juventus mulai bergerak. CEO Cristiano Giuntoli dikabarkan tengah menjajaki kesepakatan untuk Randal Kolo Muani, penyerang Paris Saint-Germain yang tengah tidak betah. Langkah ini diambil setelah rencana awal merekrut Jonathan David dari Lille menemui kendala. Sementara itu, Inter Milan dilaporkan mengalihkan dana yang semula dialokasikan untuk Curtis Jones (Liverpool) ke Nico Paz, gelandang muda Real Madrid yang sedang dipinjamkan ke Como. Lazio dan Napoli juga dikabarkan semakin dekat dengan kesepakatan transfer Mario Gila, dengan potongan harga yang mungkin diberikan oleh Biancocelesti.
Dalam wawancara eksklusif di ajang Vialli e Mauro Golf Cup, legenda Prancis Michel Platini memberikan dukungan penuh kepada Juventus. "Juventus akan kembali ke jalur kemenangan. Celakalah siapa pun yang menyentuh klub ini, bagi saya hanya keluarga Agnelli yang ada. Saya tidak akan kembali, tapi saya bisa menjadi penasihat," ujar Platini. Ia juga membandingkan bintang muda Juventus, Kenan Yildiz, dengan Lamine Yamal: "Yildiz seperti Lamine Yamal, seorang nomor 10 yang bermain seperti nomor 11." Pernyataan ini menambah optimisme bahwa Juventus sedang membangun fondasi untuk masa depan yang lebih cerah.
Ke depan, pertanyaan terbesar adalah apakah kombinasi Conte-Maldini benar-benar akan terwujud dan mampu mengembalikan Italia ke papan atas sepak bola dunia. Sementara di level klub, pergerakan bursa transfer Serie A musim panas ini akan menjadi indikator seberapa serius tim-tim Italia bersaing di Eropa. Bagi Indonesia, dinamika ini menarik untuk diikuti, mengingat banyak pemain Serie A yang menjadi langganan timnas negara-negara kuat.



