SpaceX Kehilangan Rp7.141 Triliun dalam Sehari: Sinyal Bahaya bagi Investor Teknologi?
Baca dalam 60 detik
- Saham SpaceX anjlok 16,4% pada Senin, menghapus kapitalisasi pasar hingga US$400 miliar atau setara Rp7.141 triliun.
- Penurunan dipicu oleh ekspektasi kenaikan suku bunga AS yang menggerus valuasi perusahaan teknologi dengan rasio harga-pendapatan tinggi.
- SpaceX berencana menerbitkan obligasi US$20 miliar untuk membayar utang jangka pendek, menambah tekanan di tengah ketidakpastian pasar.

Dalam satu hari perdagangan, SpaceX milik Elon Musk kehilangan nilai pasar sebesar US$400 miliar—setara dengan Rp7.141 triliun—menjadikannya kerugian satu hari terbesar kedua yang pernah dialami perusahaan mana pun di Wall Street. Saham perusahaan roket dan kecerdasan buatan itu ambrol 16,4% ke level US$154,60, jauh di bawah harga tertinggi pasca-IPO yang sempat menyentuh US$225 pada 16 Juni lalu.
Penurunan dramatis ini terjadi di tengah gejolak pasar obligasi AS. Imbal hasil surat utang pemerintah dua tahun melonjak ke 4,23%, level tertinggi dalam lebih dari setahun, karena pasar berspekulasi Federal Reserve akan menaikkan suku bunga paling cepat September demi mengendalikan inflasi. Bagi saham teknologi dengan valuasi tinggi seperti SpaceX—yang diperdagangkan lebih dari 100 kali lipat pendapatan tahun lalu—kenaikan imbal hasil obligasi menjadi pukulan telak.
Data Kunci:
- Kapitalisasi pasar SpaceX kini US$2,03 triliun, turun dari puncak intraday US$3 triliun.
- IPO SpaceX pada 11 Juni lalu meraup US$86 miliar, menjadi debut terbesar dalam sejarah.
- Divisi AI SpaceX (xAI) mencatat kerugian US$6,4 miliar pada 2025.
- SpaceX berencana menerbitkan obligasi US$20 miliar pekan ini untuk membayar utang jangka pendek.
“Semua orang yang ingin membeli sudah membeli di hari-hari pertama, dan sepertinya mereka sudah selesai,” ujar Mike O'Rourke dari Jones Trading kepada Financial Times. Sektor teknologi secara umum ikut tertekan: Nasdaq Composite turun 1,3%, sementara saham Google, Amazon, dan Broadcom masing-masing merosot lebih dari 4%.
Bagi investor Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan risiko konsentrasi pada saham teknologi berkapitalisasi raksasa. Meski SpaceX tidak tercatat di bursa domestik, efek rambatannya terasa melalui reksa dana global dan ETF teknologi yang banyak dipegang investor ritel Tanah Air. Selain itu, rencana SpaceX menerbitkan obligasi dalam jumlah besar berpotensi mempengaruhi sentimen pasar surat utang global, termasuk yield obligasi pemerintah Indonesia yang kerap bergerak seirama dengan Treasury AS.
Ketua Fed Kevin Warsh pekan lalu berjanji akan meredam inflasi yang dipicu oleh kebijakan tarif era Trump, sementara sembilan dari 18 pejabat Fed memperkirakan suku bunga lebih tinggi pada akhir tahun. Pasar kini menantikan langkah konkret bank sentral. Di sisi lain, SpaceX terus mengembangkan bisnis komputasi AI dengan menyewakan kapasitas pusat data Colossus 2 ke perusahaan rintisan seperti Reflection AI, meniru model bisnis CoreWeave. Namun, chatbot Grok milik xAI masih kalah populer dibandingkan ChatGPT, Gemini, dan Claude.
Dengan utang jangka pendek US$20 miliar yang jatuh tempo dan valuasi yang sangat bergantung pada optimisme pasar AI, pertanyaan besarnya adalah: mampukah SpaceX mempertahankan momentum pertumbuhan di tengah tekanan suku bunga dan persaingan ketat? Ataukah ini awal dari koreksi besar bagi kerajaan bisnis Elon Musk?



