Kebakaran Pusat Pelatihan Animasi di Lucknow Tewaskan 15 Orang, Sebagian Besar Pelajar
Baca dalam 60 detik
- Sebuah pusat pelatihan animasi di Lucknow, India, dilanda kebakaran hebat pada Senin (22/6) yang merenggut nyawa 15 orang, mayoritas siswa.
- Kebakaran terjadi di gedung bertingkat yang juga menampung klinik hewan dan toko hewan peliharaan, menyulitkan upaya evakuasi akibat asap tebal.
- Insiden ini memicu kembali kekhawatiran tentang standar keselamatan kebakaran di India, menyusul kebakaran hotel di Delhi yang menewaskan lebih dari 20 orang awal bulan ini.

Kebakaran hebat melanda sebuah pusat pelatihan animasi di Lucknow, ibu kota negara bagian Uttar Pradesh, India utara, pada Senin (22/6/2026), menewaskan sedikitnya 15 orang—sebagian besar adalah siswa yang sedang mengikuti pelatihan. Peristiwa ini menjadi tragedi terbaru yang menyoroti lemahnya penerapan standar keselamatan kebakaran di India, terutama di gedung-gedung pendidikan dan komersial.
Menurut keterangan kepolisian setempat, kebakaran terjadi di kawasan Aliganj, Lucknow, sekitar pukul 13.30 waktu setempat. Gedung berlantai tiga itu memiliki fungsi campuran: lantai dasar ditempati toko hewan peliharaan dan klinik hewan, sementara lantai atas digunakan sebagai pusat pelatihan animasi dan studio produksi. Saat kebakaran terjadi, sekitar 21 siswa dan sejumlah staf berada di dalam gedung. Dua orang dilaporkan mengalami luka serius, sementara empat lainnya dalam kondisi stabil.
Wakil Kepala Menteri Uttar Pradesh, Brajesh Pathak, mengonfirmasi bahwa pusat tersebut memang digunakan untuk melatih siswa dalam pembuatan animasi. “Kami masih menyelidiki penyebab pasti kebakaran,” ujarnya kepada wartawan. Tim pemadam kebakaran kesulitan melakukan evakuasi karena asap tebal memenuhi seluruh ruangan dan lorong. Petugas terpaksa menerobos dinding belakang gedung untuk bisa masuk, serta menggunakan kipas angin besar untuk mengeluarkan asap.
Rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan sejumlah orang berusaha menyelamatkan diri dengan memanjat keluar dari jendela yang pecah. Salah satu video bahkan menunjukkan seorang pria jatuh dari lantai atas saat mencoba melarikan diri. Media lokal melaporkan bahwa pria tersebut selamat dan kini dirawat di rumah sakit. Seorang karyawan studio animasi, Mohammad Asin, menceritakan bahwa para pekerja baru saja kembali dari makan siang ketika mereka mendengar peringatan kebakaran. “Awalnya kami mengira itu api kecil. Begitu kami mencoba keluar, asap sudah memenuhi ruangan dan lorong,” katanya.
Tragedi ini menambah panjang daftar kebakaran gedung di India yang memakan korban jiwa. Awal bulan ini, kebakaran di sebuah hotel di Delhi menewaskan lebih dari 20 orang, termasuk sekitar belasan warga asing. Peristiwa beruntun itu kembali memicu perdebatan tentang kepatuhan terhadap peraturan keselamatan kebakaran, terutama di bangunan-bangunan yang digunakan untuk kegiatan pendidikan dan komersial. Banyak gedung di India, khususnya di kota-kota padat penduduk, diketahui tidak memiliki sistem deteksi kebakaran yang memadai, pintu darurat yang memadai, atau jalur evakuasi yang jelas.
Bagi Indonesia, tragedi ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan ketat terhadap standar keselamatan kebakaran di pusat-pusat pelatihan dan gedung serbaguna. Di dalam negeri, beberapa kasus kebakaran serupa pernah terjadi, seperti kebakaran di pusat bimbingan belajar di Jakarta beberapa tahun lalu yang menewaskan belasan orang. Pemerintah daerah di Indonesia diharapkan dapat memperketat inspeksi dan memastikan setiap bangunan publik memiliki sertifikat kelayakan keselamatan kebakaran, termasuk ketersediaan alat pemadam api ringan, sprinkler, dan jalur evakuasi yang bebas hambatan.
Penyelidikan lebih lanjut masih diperlukan untuk mengungkap penyebab pasti kebakaran di Lucknow. Namun, yang menjadi pertanyaan besar adalah: apakah tragedi ini akan mendorong perubahan nyata dalam penegakan regulasi keselamatan kebakaran di India, atau akan kembali terlupakan setelah pemberitaan mereda?



