Dua Topan Mengancam Jepang: Higos dan Mekkhala Siap Hantam Akhir Pekan
Baca dalam 60 detik
- Badan Meteorologi Jepang mengeluarkan peringatan dini terkait dua topan yang diperkirakan akan mendekati dan mendarat di wilayah barat dan timur Jepang pada akhir pekan ini.
- Lebih dari 2 juta jiwa di 13 prefektur telah diminta mengungsi menyusul curah hujan ekstrem yang memicu tanah longsor dan banjir.
- Topan Higos dan Mekkhala diperkirakan akan melemah menjadi siklon ekstratropis, namun potensi bencana hidrometeorologi tetap tinggi hingga Sabtu.

Badan Meteorologi Jepang (JMA) mengeluarkan peringatan darurat pada Jumat (26/6) bahwa dua topan secara bersamaan mengancam wilayah barat dan timur negara itu, dengan potensi pendaratan pada hari Sabtu. Topan Higos dan Mekkhala diperkirakan membawa hujan deras yang telah memicu perintah evakuasi bagi lebih dari dua juta penduduk di 13 prefektur.
Fenomena langka ini terjadi ketika Higos bergerak ke utara dari Samudra Pasifik, sementara Mekkhala mendekati wilayah Amami di Prefektur Kagoshima dan diperkirakan menuju Kanto. JMA memperingatkan bahwa meskipun kedua topan akan melemah menjadi siklon ekstratropis setelah mendekat, risiko tanah longsor dan banjir masih tinggi karena tanah sudah jenuh air.
Menurut Badan Manajemen Kebakaran dan Bencana Jepang, perintah evakuasi dikeluarkan sejak Jumat pukul 07.00 waktu setempat, terutama di wilayah Kinki dan Kyushu. Di Seika, Kyoto, otoritas setempat mengaktifkan level siaga tertinggi (level 5) setelah longsor terjadi pada pagi hari, menandakan situasi sangat berbahaya.
JMA mencatat bahwa curah hujan luar biasa telah mengguyur beberapa wilayah. Di Goto, Nagasaki, akumulasi hujan mencapai 600 mm antara Selasa dan Jumat pagi, sementara di Aso (Kumamoto) dan Ureshino (Saga) tercatat lebih dari 500 mm. Angka ini jauh melampaui rata-rata bulanan untuk Juni, meningkatkan kekhawatiran akan banjir bandang dan pergerakan tanah.
Topan Mekkhala, pada pukul 11.00 Jumat, bergerak ke timur laut dengan kecepatan 15 km/jam di lepas pantai Pulau Kume, Okinawa. Sementara itu, Higos terus bergerak ke utara di sepanjang pesisir selatan Jepang. Kedua sistem diprediksi akan memperkuat curah hujan di wilayah Tokai dan Kanto hingga Sabtu, dengan potensi badai petir dan angin kencang di Okinawa serta Jepang timur.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi yang semakin ekstrem akibat perubahan iklim. Pola cuaca serupa—dengan dua siklon tropis muncul bersamaan—pernah memicu banjir besar di beberapa wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) perlu mencermati dinamika atmosfer Pasifik Barat yang dapat memengaruhi musim hujan di tanah air.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah infrastruktur mitigasi bencana di Jepang—yang tergolong maju—mampu menangani dampak ganda topan ini. Dengan perkiraan hujan terus berlangsung hingga Sabtu, evakuasi dan respons cepat menjadi kunci untuk meminimalkan korban jiwa.



