Pasar Asia Terombang-ambing: Aksi Jual Saham Teknologi dan Harapan Damai Iran-AS
Baca dalam 60 detik
- Indeks saham Asia bergerak mixed setelah aksi jual besar-besaran di Wall Street yang dipicu keraguan investor terhadap valuasi perusahaan AI.
- Harga minyak mentah bertahan di bawah US$80 per barel setelah AS mencabut sementara sanksi terhadap Iran, membuka peluang peningkatan pasokan global.
- Yen Jepang tertekan di dekat level terendah 40 tahun terhadap dolar AS, memicu spekulasi intervensi lebih lanjut dari otoritas moneter Tokyo.

Bursa Asia dibuka beragam pada Selasa (23/6) setelah aksi jual yang dipicu saham teknologi di Wall Street mengguncang kepercayaan investor terhadap keberlanjutan reli kecerdasan buatan (AI). Di sisi lain, harga minyak mentah masih tertekan menyusul sinyal positif dari perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang membuka peluang pelonggaran sanksi energi.
Indeks Kospi Korea Selatan ambles lebih dari 3 persen, dipimpin oleh raksasa semikonduktor SK hynix dan Samsung Electronics. Meski demikian, indeks tersebut masih mencatat kenaikan lebih dari 100 persen sejak awal tahun. Tokyo juga tak luput dari tekanan, dengan SoftBank Group kehilangan lebih dari 7 persen nilainya dan Tokyo Electron ikut terpuruk. Sementara itu, Taipei dan Shanghai melemah, sedangkan Hong Kong dan Sydney stagnan. Singapura, Wellington, dan Manila justru mencatat penguatan tipis.
Koreksi ini merupakan kelanjutan dari aksi jual di Wall Street, di mana Nasdaq terkoreksi lebih dari 1 persen. Raksasa teknologi seperti Amazon, Nvidia, dan Microsoft menjadi pemberat utama. Namun, yang paling mencolok adalah SpaceX milik Elon Musk yang ambrol lebih dari 16 persen—menghapus ratusan miliar dolar dari kapitalisasi pasarnya—setelah sukses besar dalam penawaran umum perdana (IPO) dan tiga sesi perdagangan awal yang gemilang. Kejatuhan ini dipicu oleh pengumuman perusahaan roket tersebut mengenai rencana penerbitan obligasi perdana dalam jumlah yang tidak disebutkan.
Langkah SpaceX mengikuti jejak Alphabet (induk Google) yang baru saja mengumumkan putaran ekuitas besar, serta usaha patungan pusat data antara Microsoft dan Chevron. Fenomena ini menggarisbawahi besarnya kebutuhan modal untuk mendorong pengembangan AI. Namun, aksi jual Senin lalu menghidupkan kembali kekhawatiran tentang kebijaksanaan investasi miliaran dolar ke AI tanpa tanda-tanda pengembalian yang jelas dalam waktu dekat. "Valuasi di sektor ini sudah terlalu mahal, dan ekspektasi kini jauh lebih tinggi dibandingkan beberapa bulan lalu," tulis Tony Sycamore, analis di IG. Ia menambahkan bahwa meskipun Intel dan Micron mencetak rekor tertinggi, kelompok saham teknologi unggulan (Magnificent Seven) kehilangan momentum dalam beberapa pekan terakhir.
Di pasar energi, minyak mentah sedikit menguat namun masih di bawah US$80 per barel. Penurunan sebelumnya dipicu oleh keputusan Departemen Keuangan AS yang mencabut sementara sanksi terhadap Iran, mengizinkan negara itu memproduksi, menjual, dan mengirim minyak mentah hingga 21 Agustus. Pelacak maritim mencatat peningkatan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz. Wakil Presiden AS JD Vance menyebut bahwa negosiasi dengan Iran telah membangun "fondasi yang sangat baik" menuju kesepakatan akhir, termasuk izin bagi inspektur nuklir PBB untuk kembali. Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan bahwa pembahasan soal nuklir masih sangat singkat dan tanpa detail. Presiden Donald Trump menegaskan bahwa Selat Hormuz kini "benar-benar terbuka" setelah Iran menutupnya akibat serangan AS-Israel pada akhir Februari.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi ganda. Sebagai importir minyak, potensi peningkatan pasokan global akibat pelonggaran sanksi Iran dapat menekan harga bahan bakar minyak di dalam negeri, meskipun dampaknya mungkin tertunda. Di sisi lain, koreksi saham teknologi global bisa mempengaruhi aliran modal asing ke pasar saham Indonesia, terutama jika investor asing melakukan aksi jual di pasar berkembang. Sektor teknologi dalam negeri yang masih dalam tahap awal pertumbuhan mungkin tidak terpengaruh langsung, tetapi sentimen negatif global bisa menekan indeks secara keseluruhan.
Perhatian pasar juga tertuju pada Jepang, di mana yen berada di dekat level terendah dalam 40 tahun terhadap dolar AS. Pelemahan ini dipicu oleh sikap hawkish Federal Reserve pekan lalu dan kekhawatiran bahwa Bank of Japan belum cukup agresif dalam mengendalikan inflasi. Otoritas Jepang dilaporkan telah menggelontorkan lebih dari US$70 miliar pada bulan lalu untuk menopang yen. Pertanyaannya, berapa lama lagi intervensi semacam itu bisa bertahan tanpa menguras cadangan devisa?



