Tragedi di Tacloban: Dua Pelajar Tembak 10 Orang, 40 Selongsong Peluru Ditemukan
Baca dalam 60 detik
- Penembakan di sekolah Filipina menewaskan tiga orang dan melukai tujuh lainnya, dengan pelaku dua siswa berusia 14 dan 15 tahun.
- Polisi menemukan lebih dari 40 selongsong peluru di lokasi kejadian, mengindikasikan serangan terencana menggunakan dua senjata api.
- Insiden ini memicu kembali perdebatan tentang keamanan sekolah dan akses senjata di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Penembakan brutal terjadi di sebuah sekolah di Tacloban City, Filipina tengah, Senin pagi (22/6), menewaskan tiga orang dan melukai tujuh lainnya. Polisi setempat mengonfirmasi bahwa lebih dari 40 selongsong peluru berserakan di tempat kejadian, menandakan betapa dahsyatnya serangan yang dilakukan oleh dua siswa sekolah tersebut.
Kepala Kepolisian Regional Visayas Timur, Brigadir Jenderal Jason Capoy, mengungkapkan bahwa kedua pelaku berusia 14 dan 15 tahun, merupakan siswa di sekolah yang sama dan berteman dekat. Mereka menggunakan pistol Glock 9mm dan revolver kaliber .38 dalam aksi yang terjadi sekitar pukul 09.00 waktu setempat, saat kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung.
Korban luka terdiri dari empat perempuan dan tiga laki-laki, sementara tiga korban tewas belum diidentifikasi secara resmi. Kepala Kepolisian Nasional Filipina, Jenderal Jose Melencio Nartatez, dalam pernyataannya mengonfirmasi total 10 orang menjadi korban, termasuk tiga yang meninggal. Tim medis segera mengevakuasi korban luka ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan intensif.
Rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan kepanikan di dalam kelas saat tembakan bertubi-tubi terdengar. Para siswa dan guru terlihat merunduk mencari perlindungan, sementara suara letusan senjata api terdengar jelas. Polisi masih menyelidiki motif di balik penembakan ini, termasuk kemungkinan adanya perencanaan matang mengingat jumlah selongsong yang banyak.
Insiden ini menjadi pengingat akan kerentanan keamanan sekolah di kawasan Asia Tenggara. Di Indonesia, kasus serupa meski jarang terjadi pernah mencuat, seperti peristiwa di Yogyakarta beberapa tahun lalu. Pakar keamanan menilai bahwa akses terhadap senjata api ilegal masih menjadi ancaman serius di negara-negara berkembang. Menurut data, Filipina memiliki tingkat kepemilikan senjata api yang relatif tinggi dibandingkan negara tetangga, meskipun ada regulasi ketat.
Pertanyaan besar kini mengemuka: bagaimana dua remaja bisa mendapatkan senjata api dan merencanakan aksi brutal semacam ini? Polisi Filipina terus mendalami kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat, termasuk pemasok senjata. Sementara itu, masyarakat Tacloban berduka dan mendesak pihak sekolah serta pemerintah untuk meningkatkan sistem keamanan guna mencegah tragedi serupa terulang kembali.



