Badai Kembar Mendekat, Jepang Batalkan Lebih dari 100 Penerbangan
Baca dalam 60 detik
- Dua siklon tropis, Mekkhala dan Higos, diperkirakan bertemu di atas Jepang dan memicu efek Fujiwhara yang mempersulit prediksi cuaca.
- Maskapai Japan Airlines dan All Nippon Airways membatalkan total 120 penerbangan dari dan menuju Okinawa serta Kagoshima.
- Ribuan warga Kyoto diimbau mengungsi akibat risiko tanah longsor, sementara Toyota dan Nissan menghentikan sebagian produksi.

Lebih dari 100 penerbangan di Jepang resmi dibatalkan pada Jumat (26/6) saat dua badai tropis bergerak mendekati kepulauan tersebut, mendorong otoritas setempat mengeluarkan imbauan evakuasi di sejumlah daerah rawan banjir dan longsor.
Badai tropis parah Mekkhala, yang sebelumnya berstatus topan, tercatat membawa hembusan angin hingga 144 kilometer per jam. Hujan deras telah mengguyur bagian selatan dan barat Jepang, memicu kekhawatiran akan bencana hidrometeorologi. Sementara itu, badai tropis Higos masih berputar di Samudra Pasifik dan diprediksi akan mendekati wilayah yang sama pada akhir pekan ini.
Fenomena yang disebut efek Fujiwhara—ketika dua siklon saling berinteraksi dan memengaruhi pergerakan masing-masing—berpotensi terjadi. Menurut para ahli meteorologi, kondisi ini membuat prakiraan arah dan intensitas badai menjadi lebih rumit dari biasanya.
Dampak cuaca ekstrem tidak hanya mengganggu transportasi udara. Di sektor industri, Toyota terpaksa menghentikan kegiatan di salah satu pabriknya di Kyushu karena akses jalan terputus akibat hujan lebat. Nissan juga mengumumkan rencana penghentian sementara beberapa jalur produksi, seperti dilaporkan Kyodo News. Militer Jepang bahkan membatalkan penerbangan perdana pesawat angkut V-22 Osprey yang sedianya menjadi bagian dari latihan bersama dengan Amerika Serikat menuju Pulau Miyako.
Bagi Indonesia, fenomena cuaca ekstrem di Jepang ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi siklon tropis yang kerap melintasi wilayah kepulauan Nusantara. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa rata-rata 20 siklon tropis terbentuk di sekitar Indonesia setiap tahun, meski sebagian besar tidak mencapai daratan. Namun, efek tidak langsung seperti hujan deras dan angin kencang tetap berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan dan pelayaran di kawasan timur Indonesia.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah seberapa sering fenomena badai kembar seperti ini akan terjadi di tengah perubahan iklim global. Para ilmuwan memperkirakan peningkatan suhu permukaan laut dapat memperkuat intensitas siklon tropis dan meningkatkan kemungkinan interaksi antar badai. Bagi Jepang dan negara-negara kepulauan lainnya, adaptasi sistem peringatan dini dan infrastruktur tahan cuaca ekstrem menjadi semakin mendesak.



