Laba-laba Australia Ini Gunakan Ketapel Sutra untuk Berburu Semut Agresif
Baca dalam 60 detik
- Laba-laba ballista (Propostira) dari hutan hujan Queensland menggunakan jaring pegas yang hanya dipicu oleh gigitan semut rangrang hijau.
- Perangkap ini menghasilkan akselerasi hingga 1.367 m/s², 140 kali gravitasi, dan menyimpan energi lebih besar dari ketapel biologis lainnya.
- Spesialisasi ekstrem pada satu mangsa dan mekanisme pemicu oleh korban menunjukkan evolusi biomekanik yang unik.

Di hutan hujan tropis Semenanjung Cape York, Queensland, para peneliti menemukan spesies laba-laba nokturnal dari genus Propostira yang menggunakan jaring sutra sebagai ketapel berdaya ledak tinggi untuk menangkap semut rangrang hijau (Oecophylla smaragdina). Temuan yang dipublikasikan di Current Biology ini mengungkap strategi berburu yang belum pernah didokumentasikan sebelumnya: perangkap pegas yang hanya aktif ketika semut pekerja menggigit jaring tipis yang sengaja dipasang.
Laba-laba yang dijuluki ballista spider ini menghabiskan siang hari di bawah daun, lalu pada malam hari turun perlahan menggunakan benang sutra untuk membangun jangkar. Dari titik tersebut, ia kembali ke jaring inti sambil meninggalkan 'benang tegangan' dan mengulangi prosesnya dengan presisi tinggi hingga terbentuk struktur kipas dari sutra tegangan. Setelah itu, laba-laba membungkus kerucut kecil dengan sutra yang lebih tipis dan kembali ke pusat jaring. Sutra tipis inilah yang menarik perhatian semut rangrang, diduga karena mengandung feromon yang memicu respons agresif.
Begitu semut menggigit kerucut, gigitan tersebut melepaskan kerucut dari permukaan dan dalam sekejap semut terlempar ke jaring inti dengan akselerasi mencapai 1.367 meter per detik kuadrat—sekitar 140 kali percepatan gravitasi atau 15 kali gaya G ekstrem yang dialami pilot jet. Laba-laba kemudian menunggu hingga mangsanya benar-benar terjerat sebelum mendekat dan membungkusnya dengan sutra untuk disantap.
Yang membuat strategi ini semakin unik adalah tingkat spesialisasi laba-laba pada satu spesies mangsa. Menurut para peneliti, laba-laba ballista kemungkinan menambahkan feromon tertentu pada sutra tipisnya untuk menarik semut rangrang. Selain itu, perangkap ini dipicu oleh mangsa itu sendiri, bukan oleh predator yang merasakan kehadiran mangsa—sebuah mekanisme yang jarang ditemukan di alam.
Performa energi jaring laba-laba ini melampaui sistem ketapel berbasis sutra lainnya. Gram per gram, jaring ballista menyimpan energi dan menghasilkan daya lebih besar daripada ketapel biologis mana pun yang diketahui. Para ilmuwan memperkirakan bahwa kekuatan luar biasa ini berevolusi untuk menarik semut dengan cepat menjauh dari sarang dan jalur mereka, tempat semut lain dapat datang membantu.
Bagi Indonesia, temuan ini membuka wawasan tentang keanekaragaman hayati dan mekanisme evolusi di kawasan tropis. Meskipun laba-laba Propostira belum ditemukan di Indonesia, semut rangrang hijau adalah spesies umum di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Pengetahuan tentang interaksi predator-mangsa yang sangat terspesialisasi ini dapat menginspirasi penelitian biomimetik, misalnya dalam pengembangan material elastis atau sistem aktuasi berdaya tinggi. Pertanyaan yang muncul: apakah ada spesies laba-laba serupa di hutan hujan Indonesia yang belum teridentifikasi?



