Asing Kembali Hempas Saham RI: Rp1,12 Triliun Kabur dalam Sehari, IHSG Terjun Bebas
Baca dalam 60 detik
- Investor asing mencatat net sell Rp1,12 triliun di bursa Indonesia pada Senin (22/6/2026), memperpanjang tekanan jual di pasar modal.
- Aksi jual terbesar menyasar saham big caps seperti perbankan dan tambang, mencerminkan kekhawatiran terhadap prospek ekonomi domestik.
- IHSG ambles 0,98% ke 6.116,69, mendekati level psikologis 6.000, dengan potensi arus keluar asing masih berlanjut dalam jangka pendek.

Tekanan jual investor asing di pasar saham Indonesia belum menunjukkan tanda mereda. Pada perdagangan Senin (22/6/2026), aksi jual bersih (net sell) asing mencapai Rp1,12 triliun di seluruh pasar, menjadikannya salah satu rekor harian tertinggi dalam beberapa pekan terakhir. Nilai transaksi total hari itu tercatat sebesar Rp10,64 triliun, dengan nilai jual asing mencapai Rp5,88 triliun, jauh melampaui nilai beli yang hanya Rp4,76 triliun.
Fenomena ini bukan sekadar fluktuasi harian. Dalam sepekan terakhir, arus modal asing keluar dari bursa Indonesia telah melampaui Rp3 triliun, menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke level terendah sejak awal tahun. Pada penutupan Senin, IHSG anjlok 0,98% atau 60,45 poin ke posisi 6.116,69, setelah sempat menyentuh titik terendah intraday di 6.052,94. Level psikologis 6.000 kini berada dalam jangkauan, mengingatkan pada tekanan serupa yang terjadi pada kuartal pertama 2020.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham-saham berkapitalisasi besar menjadi sasaran utama aksi jual asing. Sektor perbankan, telekomunikasi, petrokimia, dan pertambangan mencatat net sell terbesar. Saham BBCA, BBRI, dan TLKM misalnya, masing-masing mengalami tekanan jual di atas Rp100 miliar. Para analis menilai bahwa aksi jual ini dipicu oleh ekspektasi kenaikan suku bunga global yang lebih agresif, terutama setelah data inflasi Amerika Serikat terbaru menunjukkan angka di atas proyeksi. โInvestor asing cenderung melakukan repatriasi dana ke instrumen yang lebih aman, seperti obligasi pemerintah AS, ketika ketidakpastian moneter meningkat,โ ujar seorang analis dari Mirae Asset Sekuritas.
Di sisi lain, sentimen domestik juga belum cukup kuat untuk membalikkan arah. Rilis data neraca perdagangan Indonesia yang surplus tipis pada Mei 2026 tidak mampu meredam kekhawatiran pelaku pasar terhadap perlambatan ekonomi global. Selain itu, ketidakpastian kebijakan fiskal pasca-pemilu turut membebani minat investor asing terhadap aset berisiko di Indonesia.
Bagi investor ritel Indonesia, situasi ini menjadi pengingat akan volatilitas pasar yang dipengaruhi oleh faktor eksternal. Meski IHSG masih menawarkan dividend yield yang relatif tinggi dibandingkan bursa regional, arus keluar asing yang berkelanjutan dapat memperpanjang fase koreksi. Sejumlah manajer investasi mulai merekomendasikan strategi defensif, seperti alokasi ke saham-saham consumer goods atau obligasi pemerintah, untuk mengurangi eksposur terhadap risiko capital outflow.
Pertanyaan besarnya adalah: akankah Bank Indonesia (BI) turun tangan dengan kebijakan moneter yang lebih longgar atau intervensi di pasar obligasi untuk menahan tekanan? Atau justru sebaliknya, BI akan menaikkan suku bunga acuan untuk mengantisipasi pelemahan rupiah? Dalam beberapa hari ke depan, arah kebijakan BI akan menjadi kunci apakah IHSG mampu bertahan di atas level 6.000 atau justru melanjutkan tren penurunan menuju level support berikutnya di 5.800.



