Erajaya Garap Bisnis Otomotif: ERAL Kantongi Fasilitas Kredit Rp655 Miliar dari BRI
Baca dalam 60 detik
- Anak usaha Grup Erajaya, PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL), mengamankan total fasilitas kredit senilai Rp655 miliar dari BRI untuk dua entitas otomotif.
- Fasilitas mencakup bank garansi dan supply chain financing, serta valuta asing dalam yuan China untuk mendukung transaksi internasional.
- Langkah ini menandai ekspansi agresif ERAL di sektor otomotif, meski manajemen menyebut tidak berdampak material pada operasional saat ini.

PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL), anak usaha Grup Erajaya yang selama ini identik dengan ritel ponsel, kian serius merambah bisnis otomotif. Perusahaan baru saja mengantongi fasilitas kredit senilai Rp655 miliar dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) untuk dua anak usahanya yang bergerak di sektor kendaraan bermotor.
Berdasarkan keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), perjanjian kredit ditandatangani pada 23 Juni 2026. Dua entitas yang menjadi penerima fasilitas adalah PT Era Inovasi Otomotif (EIVO) dan PT Era Dealer Otomotif (EDOO). Keduanya mendapat dua jenis fasilitas dalam rupiah: bank garansi sebesar Rp500 miliar dan Supply Chain Financing (SCF) Account Payable senilai Rp125 miliar, masing-masing dengan tenor 12 bulan.
Tak hanya itu, ERAL juga memperoleh fasilitas valuta asing berupa Standby Letter of Credit (SBLC) sebesar 6 juta yuan China dan Forex Line senilai 10 juta yuan China. Fasilitas ini dirancang untuk mendukung transaksi berbasis mata uang asing, terutama yang berkaitan dengan kebutuhan operasional EIVO dan EDOO.
Manajemen ERAL menyatakan bahwa fasilitas ini merupakan bagian dari strategi memperkuat modal kerja anak usaha di sektor otomotif sekaligus mengoptimalkan kemampuan transaksi valuta asing. Meski demikian, perseroan menegaskan bahwa penandatanganan kredit tidak memberikan dampak material terhadap kegiatan operasional, aspek hukum, maupun kelangsungan usaha. Namun, diakui bahwa fasilitas ini akan menambah kewajiban keuangan perseroan dan entitas anak seiring pengembangan bisnis grup.
Langkah ERAL ini menarik dicermati di tengah tren diversifikasi Grup Erajaya yang sebelumnya dikenal sebagai penguasa pasar ritel telepon genggam. Ekspansi ke otomotif, khususnya melalui EIVO dan EDOO, menunjukkan ambisi perseroan untuk memanfaatkan pertumbuhan pasar kendaraan di Indonesia. Bagi investor, penambahan utang ini perlu diimbangi dengan proyeksi pendapatan yang jelas dari segmen otomotif.
Ke depan, publik akan mengamati seberapa cepat fasilitas kredit ini mampu mendorong pendapatan ERAL dari lini otomotif. Apakah diversifikasi ini akan menjadi sumber pertumbuhan baru atau justru membebani neraca keuangan? Jawabannya akan terlihat dalam laporan keuangan kuartal-kuartal mendatang.



