Di Tengah Ketegangan Diplomatik, Pengusaha Jepang Ramaikan Pameran AI di Beijing
Baca dalam 60 detik
- Delegasi bisnis Jepang menghadiri China International Supply Chain Expo di Beijing, menampilkan produk AI dan semikonduktor dari raksasa global seperti Nvidia dan Intel.
- Langkah ini dinilai sebagai upaya menjaga hubungan ekonomi meskipun hubungan bilateral memburuk akibat pernyataan Perdana Menteri Sanae Takaichi soal Taiwan.
- Partisipasi Jepang di pameran ini memberikan pelajaran bagi Indonesia untuk memisahkan dinamika politik dari kerja sama teknologi dan rantai pasok.

Sejumlah perwakilan kelompok bisnis Jepang mengunjungi pameran kecerdasan buatan (AI) di Beijing pada Senin (23/6), sebuah langkah yang dianggap sebagai upaya menjaga kanal komunikasi ekonomi di tengah memburuknya hubungan diplomatik Tokyo-Beijing. Kunjungan ini terjadi hanya beberapa bulan setelah pernyataan kontroversial Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengenai Taiwan memicu ketegangan baru antara kedua negara.
Delegasi dari Kamar Dagang dan Industri Jepang, Federasi Ekonomi Kansai, Asosiasi Promosi Perdagangan Internasional Jepang, dan Kamar Dagang dan Industri Osaka menghadiri China International Supply Chain Expo yang berlangsung selama lima hari hingga Jumat (27/6). Pameran tahunan yang pertama kali digelar pada 2023 ini berfokus pada penguatan rantai pasok dan menjembatani hubungan antara sektor hulu, tengah, dan hilir. Tahun ini, acara tersebut menarik lebih dari 670 perusahaan dan institusi dari 85 negara, kawasan, dan organisasi internasional.
Salah satu daya tarik utama adalah zona pameran AI yang menampilkan stan dari raksasa semikonduktor Amerika Serikat, Nvidia Corp. dan Intel Corp. Kehadiran dua perusahaan ini menegaskan bahwa meskipun ketegangan geopolitik meningkat, kolaborasi teknologi tetap menjadi prioritas bagi pelaku industri global.
Masayoshi Matsumoto, ketua Federasi Ekonomi Kansai sekaligus pimpinan Sumitomo Electric Industries, mengatakan kepada wartawan bahwa para pemimpin bisnis di masa lalu pernah berperan membantu memperbaiki hubungan antara pemerintah China dan Jepang. โKami berharap dapat memastikan pertukaran yang lancar antara kedua negara dengan memanfaatkan berbagai kesempatan,โ ujar Matsumoto. Pernyataan ini mencerminkan keyakinan bahwa sektor swasta dapat menjadi jembatan diplomatik ketika hubungan politik sedang renggang.
Seorang pejabat Panasonic Holdings Corp., yang memamerkan produk untuk lansia di pameran tersebut, menekankan pentingnya bagi perusahaan Jepang untuk tetap terlihat di pasar China meskipun hubungan bilateral memburuk. Sikap ini menunjukkan bahwa kepentingan bisnis jangka panjang sering kali mengalahkan ketegangan politik jangka pendek. Gaku Hashimoto, putra mantan Perdana Menteri Jepang Ryutaro Hashimoto dan penjabat ketua asosiasi promosi perdagangan, juga turut hadir dalam kunjungan tersebut.
Hubungan Sino-Jepang memburuk secara tajam setelah Takaichi pada November 2025 lalu menyatakan di parlemen bahwa serangan China daratan terhadap Taiwanโsebuah pulau demokratis yang diklaim Beijingโdapat memicu respons pasukan pertahanan Jepang untuk mendukung militer AS. Pernyataan itu memicu kecaman keras dari Beijing dan meningkatkan ketegangan di kawasan.
Bagi Indonesia, dinamika ini memberikan pelajaran berharga. Sebagai negara yang menjalin hubungan erat dengan kedua raksasa Asia tersebut, Indonesia perlu cermat memisahkan kepentingan ekonomi dari friksi politik. Partisipasi aktif pengusaha Jepang di pameran AI China menunjukkan bahwa rantai pasok teknologi tetap berjalan meskipun ada perbedaan pandangan politik. Indonesia dapat mengambil contoh untuk terus mendorong kerja sama teknologi dan investasi tanpa terjebak dalam pusaran ketegangan diplomatik.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah pendekatan bisnis-sebagai-jembatan ini mampu bertahan jika ketegangan semakin meningkat, atau justru akan tergerus oleh tekanan politik yang semakin kuat. Yang jelas, pameran di Beijing ini membuktikan bahwa pragmatisme ekonomi masih menjadi kekuatan yang sulit diabaikan.



