Italia Siap Luncurkan Model AI Open Source Raksasa, Tantang Dominasi AS dan China
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan AI Italia, Domyn, berencana merilis model open source dengan lebih dari 400 miliar parameter dalam setahun, menargetkan status frontier.
- Langkah ini merupakan bagian dari upaya Eropa mengurangi ketergantungan pada AI asing, di tengah pembatasan penggunaan DeepSeek dan kekhawatiran atas kontrol ekspor AS.
- Dukungan Komisi Eropa dan akses ke superkomputer EuroHPC disebut sebagai aset strategis yang dapat mempercepat pengembangan AI di Eropa.

Italia segera memiliki pemain baru di panggung kecerdasan buatan (AI) global. Domyn, perusahaan rintisan asal Milan, mengumumkan akan merilis model AI open source dengan lebih dari 400 miliar parameter dalam waktu satu tahun. Langkah ini tidak hanya menantang dominasi perusahaan AS dan China, tetapi juga menjadi simbol ambisi Eropa untuk membangun kedaulatan teknologinya sendiri.
CEO Domyn, Uljan Sharka, mengatakan model tersebut akan sepenuhnya open source dan dapat direproduksi, sehingga perusahaan dan pemerintah dapat menjalankannya di infrastruktur mereka sendiri tanpa biaya. "Kami ingin membangun salah satu sistem frontier paling canggih yang tersedia," ujarnya dalam sebuah pernyataan, Kamis (25/6).
Langkah Domyn muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran Eropa terhadap ketergantungan pada AI yang dihosting asing. Italia dan Ceko baru-baru ini membatasi penggunaan jarak jauh model DeepSeek, sementara kekhawatiran atas kontrol ekspor AS terhadap model Anthropic juga semakin memuncak. Situasi ini mendorong Uni Eropa untuk mencari alternatif lokal yang lebih aman dan mandiri.
Domyn tidak sendirian. Perusahaan ini bergabung dengan Mistral asal Prancis dan OVHcloud yang baru-baru ini memasuki lanskap AI Eropa. CEO OVHcloud, Octave Klaba, sebelumnya menyebut bahwa penurunan biaya dan hambatan teknis membuka "gelombang kedua" pembangun model AI. Sharka setuju dengan pandangan itu, seraya menambahkan bahwa dukungan Komisi Eropa memberikan akses ke EuroHPC, infrastruktur superkomputer publik Eropa yang ia sebut sebagai aset strategis yang kurang dihargai.
Menurut Sharka, melatih model frontier membutuhkan daya komputasi yang jauh lebih kecil dibandingkan melayani ratusan juta pengguna chatbot jarak jauh. "Amerika Serikat menghabiskan banyak uang untuk infrastruktur AI, tetapi Eropa sudah memiliki apa yang dibutuhkan melalui jaringan EuroHPC," tegasnya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, model open source seperti yang dikembangkan Domyn dapat diadopsi oleh pemerintah dan perusahaan Indonesia tanpa harus bergantung pada penyedia asing, mengurangi risiko keamanan data dan biaya lisensi. Di sisi lain, Indonesia perlu mempercepat pembangunan infrastruktur komputasi dan sumber daya manusia AI agar tidak tertinggal dalam persaingan global. Model open source juga memungkinkan kolaborasi riset yang lebih luas, termasuk dengan institusi dalam negeri.
Domyn berencana mengumpulkan data dari mitra institusional dan telah menjadwalkan pertemuan dengan kepala negara Eropa. Sharka memperkirakan kesepakatan data pertama dengan pemerintah akan tercapai dalam beberapa pekan mendatang. Pertanyaannya, mampukah Eropa benar-benar menyaingi AS dan China, atau akankah ambisi ini hanya menjadi cerita lain tentang ketertinggalan teknologi?



