AI Bisa Pantau, Tapi Tak Mampu Basmi Tikus di Hong Kong: Tantangan Lingkungan yang Lebih Dalam
Baca dalam 60 detik
- Hong Kong menggunakan kamera termal bertenaga AI untuk memantau aktivitas tikus, menghasilkan 'Tingkat Ketidakhadiran Tikus' (RAR) sebagai indikator infestasi.
- Meski data pemerintah menunjukkan perbaikan di beberapa area, puluhan lokasi masih memiliki RAR di bawah 80%, artinya lebih dari satu dari lima gambar masih menampakkan tikus.
- Para ahli menekankan bahwa AI hanya alat bantu; solusi jangka panjang bergantung pada perubahan perilaku manusia dan pengelolaan lingkungan yang komprehensif.

Kamera termal yang dipasang di sudut-sudut gelap Hong Kong mulai merekam gerakan-gerakan kecil di malam hari—bukan penjahat, melainkan tikus. Kota dengan kepadatan penduduk tinggi ini mengandalkan kecerdasan buatan untuk memetakan infestasi hama yang sudah mengakar puluhan tahun, namun para ahli memperingatkan bahwa teknologi saja tidak akan cukup.
Sejak 2024, pemerintah Hong Kong mengoperasikan sistem pengawasan berbasis AI yang menganalisis citra termal untuk menghasilkan "Rodent Absence Rate" (RAR)—persentase gambar tanpa tikus di suatu lokasi. Departemen Kebersihan Makanan dan Lingkungan setempat mengklaim data tahun lalu menunjukkan "perbaikan signifikan" di area yang sebelumnya parah. Namun, dokumen resmi mengungkapkan puluhan titik survei masih mencatat RAR di bawah 80 persen, artinya lebih dari satu dari lima bidikan kamera masih menangkap hewan pengerat itu.
Bagi kota berpenduduk lebih dari 7 juta jiwa, tikus bukan sekadar gangguan estetika. Pada Mei lalu, Hong Kong melaporkan kasus pertama hepatitis E dari tikus pada manusia tahun ini. Sekitar satu dari lima tikus diperkirakan membawa virus tersebut. Meski infeksi pada manusia tergolong langka, penularan bisa terjadi melalui makanan atau air yang terkontaminasi kotoran tikus. Gejalanya meliputi demam, mual, dan muntah; kasus berat bisa berujung gagal hati. Dr. Siddharth Sridhar, profesor klinis di departemen mikrobiologi Universitas Hong Kong, menyebut virus ini telah menjadi "virus paling umum yang menular dari hewan pengerat ke manusia" di wilayah tersebut. Secara global, lebih dari 50 kasus telah tercatat.
Namun, para peneliti mempertanyakan transparansi data. Brian Wong dari Liber Research Community, LSM yang fokus pada kebijakan tata kota, mengapresiasi upaya pemerintah tetapi mendesak komunikasi yang lebih jujur. "Di mana posisi kita saat ini?" tanyanya. Sementara itu, urban rodentologist asal New York, Bobby Corrigan, yang telah merancang program pengendalian tikus di berbagai kota Amerika dan Kanada selama 20 tahun, menekankan bahwa RAR hanyalah satu dari sekian metrik. "Kami juga mengukur sumber makanan, jumlah liang tikus di taman, dan berbagai indikator lain untuk mendapatkan gambaran utuh," jelasnya.
Bagi Indonesia, kisah Hong Kong menjadi pengingat bahwa urbanisasi dan kepadatan penduduk seringkali berbanding lurus dengan masalah hama. Kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Bandung juga bergulat dengan infestasi tikus yang mengancam kesehatan publik dan infrastruktur. Meski belum ada adopsi teknologi serupa secara masif, beberapa kota di Indonesia mulai melirik sistem pemantauan berbasis sensor. Namun, seperti ditegaskan Corrigan, "Tikus adalah cerminan seberapa baik kita merawat lingkungan kita sendiri."
Ke depan, efektivitas AI dalam pengendalian hama akan sangat tergantung pada kemauan politik untuk mengintegrasikan data dengan kebijakan pengelolaan sampah, perbaikan drainase, dan edukasi masyarakat. Tanpa perubahan perilaku—dari membuang sampah sembarangan hingga menutup celah akses tikus ke bangunan—teknologi canggih sekalipun hanya akan menjadi plester luka. Pertanyaan yang tersisa: apakah kota-kota di Asia, termasuk Indonesia, siap belajar dari pengalaman Hong Kong sebelum infestasi semakin parah?



