Messi Pecahkan Rekor Pencetak Gol Terbanyak Piala Dunia: Rahasia di Balik Kehebatan di Usia 38
Baca dalam 60 detik
- Lionel Messi kini menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia dengan 17 gol, melewati rekor Miroslav Klose.
- Ketahanan fisik dan mental, serta kecintaan pada sepak bola, menjadi kunci Messi tetap tampil gemilang di usia 38 tahun.
- Pencapaian ini menegaskan dominasi Messi di panggung global, sekaligus menjadi tantangan bagi generasi baru seperti Mbappe dan Haaland.

Lionel Messi kembali menorehkan sejarah di Piala Dunia 2026. Dalam laga kedua Argentina melawan Austria, pemain berusia 38 tahun itu mencetak gol khas kaki kirinya yang melengkung, bukan hanya membawa timnya unggul, tetapi juga menjadikannya pencetak gol terbanyak sepanjang masa turnamen ini. Dengan 17 gol dari 28 pertandingan, Messi melampaui rekor sebelumnya yang dipegang Miroslav Klose (16 gol).
Prestasi ini semakin mengukuhkan status Messi sebagai legenda hidup sepak bola. Setelah membawa Argentina juara di Qatar 2022 dengan torehan tujuh gol, ia kini memulai Piala Dunia 2026 dengan gemilang: hattrick di laga pembuka melawan Aljazair dan gol bersejarah melawan Austria. Dengan satu pertandingan tersisa di fase grup melawan Yordania, Messi menjadi kandidat kuat perebutan Sepatu Emas—penghargaan individu yang belum pernah ia raih.
Yang membuat pencapaian ini luar biasa adalah konsistensi Messi di usia yang tidak lagi muda. Ia telah mencetak gol dalam enam pertandingan Piala Dunia beruntun, sebuah rekor yang hanya pernah dicapai oleh Just Fontaine (1958) dan Jairzinho (1958). Tidak ada pemain yang pernah mencetak gol dalam tujuh laga beruntun. Selain itu, Messi juga memegang rekor peluang tercipta terbanyak dalam sejarah Piala Dunia, dan hanya tinggal satu assist lagi untuk menjadi pengumpan terbanyak sejak 1966—saat ini ia berbagi rekor dengan idolanya, Diego Maradona.
Pertanyaan besarnya, bagaimana Messi—yang bermain di MLS selama tiga tahun dan akan berusia 39 tahun—masih mampu tampil dominan di panggung terbesar? Jawabannya terletak pada perpaduan disiplin fisik, kekuatan mental, dan kecintaan murni pada sepak bola. Mantan rekan setimnya di Barcelona, Cesc Fabregas, menggambarkan Messi sebagai pribadi yang tenang di luar lapangan, tetapi berubah menjadi pejuang haus kemenangan saat pertandingan. "Dia ingin menang dengan cara apa pun," ujar Fabregas dalam dokumenter BBC.
Olivier Giroud, yang masih bermain di Ligue 1 pada usia 39, memahami betul rahasia Messi. Menurutnya, kompetisi dengan diri sendiri lebih penting daripada memikirkan generasi muda. "Gairah Messi terhadap sepak bola sangat jelas. Itu ada dalam DNA-nya untuk selalu menjadi kompetitor dan berusaha melampaui dirinya sendiri," kata Giroud. Ia menambahkan bahwa menjaga kebersihan hidup—pola tidur, diet, dan perawatan tubuh—menjadi krusial di usia mereka.
Psikolog olahraga Michael Caulfield, yang telah berkecimpung di sepak bola profesional selama lebih dari 20 tahun, menekankan pentingnya kapasitas mental untuk menghadapi rutinitas harian. "Pemain seusia itu tahu betul tubuh mereka. Mereka memanfaatkan setiap terobosan dalam ilmu olahraga. Tapi secara mental, mereka harus memiliki kemauan untuk menjalani proses rehabilitasi cedera meski sudah memenangkan segalanya. Mereka melakukannya karena cinta pada permainan, seperti Bruce Springsteen atau Madonna yang masih tur," jelas Caulfield.
Wayne Rooney, yang pernah menjadi lawan Messi di final Liga Champions, mengakui bahwa kemampuan teknis Messi tidak pernah pudar. "Usia tidak bisa menghilangkan kemampuannya dengan bola. Taruh dia di kotak penalti, dan dia bisa melakukan hal yang tidak bisa dilakukan orang lain. Jika performa ini bertahan, saya tidak akan terkejut melihatnya di Piala Dunia berikutnya," ujar Rooney. Namun, ia juga mengakui bahwa rivalitas dengan Cristiano Ronaldo turut mendorong keduanya. "Ronaldo pasti akan marah. Tapi sikap itulah yang membuat mereka hebat. Mereka memiliki keyakinan diri yang kuat, dan sekarang terserah Mbappe dan Haaland untuk membuktikan diri," tambah Rooney.
Bagi Indonesia, pencapaian Messi menjadi pengingat bahwa dedikasi dan disiplin dapat memperpanjang karier atlet di level tertinggi. Di tengah gempuran bintang muda, Messi membuktikan bahwa pengalaman dan kecerdasan bermain tetap menjadi senjata ampuh. Pertanyaan yang kini mengemuka: mampukah generasi penerus seperti Kylian Mbappe atau Erling Haaland menyaingi konsistensi dan warisan yang ditinggalkan Messi? Atau akankah sang maestro terus menuliskan babak baru dalam sejarah sepak bola?



