Skotlandia di Ambang Kepulangan: Kekalahan dari Brasil Memperpanjang Kutukan Turnamen
Baca dalam 60 detik
- Skotlandia menelan kekalahan telak 3-0 dari Brasil di Piala Dunia 2026, membuat peluang lolos ke babak gugur hampir sirna.
- Catatan buruk turnamen berlanjut: sembilan laga tanpa gol non-defleksi di dua Euro dan Piala Dunia ini memicu perdebatan soal kualitas skuad.
- Pelatih Steve Clarke mendapat tekanan untuk mundur, sementara fans terbelah antara dukungan dan tuntutan perubahan total.

Kekalahan 3-0 dari Brasil pada Rabu malam di Miami Stadium membuat Skotlandia hampir dipastikan gagal melaju ke babak gugur Piala Dunia 2026, memperpanjang penderitaan panjang mereka di turnamen besar. Impian untuk menjadi tim Skotlandia pertama yang menembus fase knockout kini tinggal kenangan, menyisakan kekecewaan mendalam di kalangan pemain, pelatih, dan pendukung.
Brasil yang diperkuat Vinicius Junior, Matheus Cunha, dan Neymar tampil dominan sejak menit awal. Tiga gol di babak pertama—dua di antaranya disahkan—menunjukkan betapa rapuhnya pertahanan Skotlandia. Pelatih Steve Clarke mengakui timnya harus berbenah, terutama dalam penguasaan bola dan pengambilan keputusan. “Kami harus lebih baik, itu saja. Lebih baik dalam penguasaan bola. Ambil tanggung jawab,” ujarnya usai pertandingan.
Kekalahan ini memicu perdebatan sengit di media Skotlandia. Jurnalis olahraga BBC Tom English menilai skuad Skotlandia “tidak cukup baik” untuk bersaing di level tertinggi. Data mendukung: dalam sembilan pertandingan turnamen (dua Euro dan satu Piala Dunia), Skotlandia hanya mencetak satu gol dari defleksi, tanpa satu pun gol non-defleksi. Namun, mantan pemain sayap Neil McCann membela tim, menyoroti kualitas individu seperti Lewis Ferguson (gelandang terbaik di Italia), Scott McTominay (kandidat Ballon d'Or), dan John McGinn (kapten Aston Villa yang baru memenangkan Liga Europa).
Fans pun terbelah. Sebagian menuntut pergantian pelatih. “Steve Clarke telah membawa tim sejauh mungkin; lebih baik dia merobek kontrak barunya,” tulis Barry. Yang lain menyalahkan pemain: “Tidak ada pelatih yang membuat kesalahan seperti yang dilakukan pemain di lapangan,” kata Dougie. Namun, ada juga yang tetap bangga, seperti Hugh: “Ini Piala Dunia pertama dalam hidup saya. Kami melawan Brasil dan Maroko; mereka tim yang lebih baik.”
Konteks Indonesia: Meski bukan tim unggulan, perjuangan Skotlandia mengingatkan pada tantangan Timnas Indonesia di kancah Asia. Kesenjangan kualitas antara tim papan atas dan menengah bawah sering kali terlihat jelas, dan tekanan publik untuk segera berbenah pun tak terhindarkan. Pengalaman Skotlandia bisa menjadi pelajaran berharga bagi pengelola sepak bola Indonesia dalam membangun tim yang kompetitif di turnamen multi-nasional.
John McGinn menyebut dibutuhkan “keajaiban” untuk lolos. Namun, di balik keputusasaan, ada secercah harapan: saat menguasai bola, Skotlandia menunjukkan permainan yang tidak buruk. Pertanyaan besarnya, mampukah mereka konsisten? Atau justru ini batas kemampuan mereka? Dengan satu pertandingan tersisa, Skotlandia harus menang besar dan berharap hasil lain berpihak. Sebuah skenario yang sudah terlalu sering mereka alami.



