Shania Twain di Usia 60: Akhirnya Berdamai dengan Tubuh Setelah Bertahun-tahun Menderita
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi country legendaris Shania Twain mengaku kini bangga dengan tubuhnya di usia 60, setelah sebelumnya melakukan cara tidak sehat demi langsing.
- Ia sempat membenci bayangannya sendiri saat menopause dan menjalani diet ekstrem yang membuatnya kekurangan gizi.
- Kisah Twain menjadi pengingat akan pentingnya penerimaan diri, terutama di tengah tekanan standar kecantikan yang juga kuat di Indonesia.

Setelah puluhan tahun bergulat dengan citra tubuh dan kebiasaan tidak sehat, penyanyi country papan atas Shania Twain akhirnya menyatakan rasa bangga terhadap fisiknya di usia 60 tahun. Dalam wawancara terbaru dengan The Independent, pelantun "You're Still The One" itu mengaku kini bisa berjalan di pantai hanya dengan bikini tanpa peduli penilaian orang lain. Pernyataan ini menjadi titik balik dari perjalanan panjangnya yang penuh dengan diet ekstrem dan kebencian terhadap diri sendiri.
Twain sebelumnya mengakui bahwa ia pernah melakukan berbagai cara "sangat tidak sehat" demi menurunkan berat badan. Saat menjalani masa menopause, ia bahkan enggan bercermin karena tidak tahan melihat perubahan tubuhnya. "Saya benci tubuh saya. Saya seperti, 'Oh, saya tidak tahan dengan tubuh yang berubah ini.' Tapi itu sangat tidak sehat. Siapa yang tidak bisa melihat dirinya di cermin?" ujarnya kepada The Sunday Times. Kebiasaan itu berlangsung hingga ia menyadari bahwa dirinya kekurangan gizi akibat bekerja lebih keras daripada memberi asupan pada tubuh.
Pelantun "Man! I Feel Like a Woman!" itu mengubah pola hidupnya dengan memangkas lemak dan gula, serta meningkatkan olahraga. Kini, ia justru ingin bercermin sepanjang hari. "Menopause sangat baik bagi saya karena saya belajar bahwa beberapa hal tidak bisa Anda kendalikan," katanya. Transformasi ini tidak hanya fisik, tetapi juga mental: ia menyadari bahwa keluar dari zona malu lebih awal akan jauh lebih sehat.
Kisah Twain relevan dengan fenomena di Indonesia, di mana tekanan sosial terhadap penampilan fisik masih sangat kuat, terutama bagi perempuan. Banyak yang rela melakukan diet ketat atau prosedur kecantikan berisiko demi memenuhi standar kecantikan yang sempit. Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Ratna Djuwita, menilai bahwa penerimaan diri seperti yang ditunjukkan Twain adalah kunci kesehatan mental. "Di Indonesia, banyak perempuan mengalami body dissatisfaction karena perbandingan sosial yang tinggi. Penting untuk belajar menerima perubahan tubuh sebagai bagian dari proses alami," ujarnya.
Twain juga memberikan nasihat untuk dirinya yang lebih muda: "Jika Anda tidak nyaman dengan kulit Anda sendiri, Anda tidak akan pernah menjadi diri sendiri." Pesan itu, menurutnya, yang mendorongnya menulis lagu ikonik "Man! I Feel Like a Woman!" sebagai deklarasi kebebasan dari kungkungan standar kecantikan. Kini, di usia 60, ia merasa lebih bebas dan percaya diri dari sebelumnya.
Ke depan, pernyataan Twain diharapkan bisa menginspirasi lebih banyak orang, terutama generasi yang lebih tua, untuk berdamai dengan perubahan tubuh. Pertanyaan yang tersisa: akankah industri hiburan dan media massa mulai lebih banyak menampilkan keragaman bentuk tubuh tanpa stigma? Ataukah tekanan untuk tampil sempurna akan terus membayangi?



