Kenapa Bendera Arab Saudi dan Irak Tak Pernah Diletakkan di Tanah Saat Piala Dunia?
Baca dalam 60 detik
- Bendera Arab Saudi dan Irak mengandung kalimat suci Islam, sehingga diperlakukan khusus dengan tidak dibentangkan di tanah selama upacara Piala Dunia.
- Praktik ini didasari penghormatan terhadap syahadat dan takbir yang dianggap sakral, berbeda dari protokol bendera nasional biasa.
- Aturan ketat ini menjadi pengingat bagi dunia bahwa simbol negara bisa memiliki dimensi religius yang harus dihormati.

Piala Dunia selalu menyajikan ritual pra-pertandingan yang sarat simbol, termasuk pemasangan bendera negara peserta di tengah lapangan. Namun, tidak semua bendera diperlakukan sama. Bendera Arab Saudi dan Irak, misalnya, tidak pernah diletakkan di tanah melainkan selalu diangkat atau dibawa oleh petugas. Keputusan ini bukan tanpa alasan: kedua bendera memuat kalimat-kalimat suci dalam ajaran Islam.
Bendera Arab Saudi menampilkan syahadat—pernyataan iman "Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya"—yang ditulis di atas pedang. Sementara itu, bendera Irak mengandung takbir, frasa "Allahu Akbar" yang berarti "Allah Maha Besar", sebuah ungkapan yang digunakan Muslim dalam doa harian, perayaan, dan azan. Karena kandungan religius ini, memperlakukan bendera tersebut seperti kain biasa—meletakkannya di tanah, duduk di atasnya, atau menggulungnya sembarangan—dianggap tidak sopan dalam tradisi Islam.
Perbedaan perlakuan ini bukanlah bentuk protes politik atau penghinaan terhadap negara lain. Menurut penjelasan penyelenggara, keputusan tersebut murni didasari rasa hormat terhadap nilai-nilai keagamaan. Dalam Islam, membiarkan teks suci menyentuh tanah atau menjadi kotor dianggap sebagai penghinaan terhadap iman, bukan sekadar terhadap negara. Hal ini berbeda dengan kasus pembakaran atau penginjak-injak bendera yang sering dipandang sebagai penghinaan nasional.
Bagi Arab Saudi, aturan ini bahkan lebih ketat. Bendera kerajaan tidak boleh disentuh tanah atau air, dan tidak pernah dikibarkan setengah tiang, karena tindakan tersebut dianggap merendahkan syahadat itu sendiri. Praktik ini sudah menjadi tradisi lama dan dihormati oleh FIFA serta panitia pelaksana Piala Dunia. Selama turnamen, petugas khusus ditugaskan untuk membawa bendera-bendera tersebut dengan hati-hati, memastikan tidak ada bagian yang menyentuh permukaan lapangan.
Fenomena ini menarik perhatian banyak penggemar sepak bola global, termasuk di Indonesia. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki sensitivitas serupa terhadap simbol-simbol keagamaan. Meskipun bendera Indonesia tidak mengandung kalimat suci, pemahaman tentang penghormatan terhadap teks agama sangat relevan. Masyarakat Indonesia kerap menunjukkan sikap serupa saat memperlakukan Al-Qur'an atau benda-benda bernuansa Islami. Kejadian di Piala Dunia ini bisa menjadi pengingat bahwa dalam olahraga global, perbedaan budaya dan keyakinan harus diakomodasi dengan penuh rasa hormat.
Ke depannya, pertanyaan yang muncul adalah: akankah FIFA menerapkan protokol serupa untuk bendera negara lain yang juga memuat simbol keagamaan? Atau justru akan ada standarisasi yang lebih ketat? Yang jelas, tradisi ini menunjukkan bahwa sepak bola tidak hanya soal kompetisi, tetapi juga ruang untuk menghargai keragaman identitas dan keyakinan.



