Nick Frost: Jadi Hagrid di Serial Harry Potter Rasanya Seperti Menang Lotere
Baca dalam 60 detik
- Aktor Nick Frost mengaku tak kuasa menahan kegembiraan saat mendapat peran Hagrid dalam serial Harry Potter garapan HBO.
- Ia menulis kata 'Hagrid' sebanyak 8.000 kali sebagai bentuk manifestasi, meski 2.000 di antaranya salah eja karena disleksia.
- Frost siap menghadapi kritik penggemar yang mungkin membandingkannya dengan mendiang Robbie Coltrane, namun ia tetap teguh pada pendekatan karakternya.

Nick Frost, aktor asal Inggris yang dikenal lewat film Shaun of the Dead dan Hot Fuzz, mengaku tak bisa menyembunyikan euforianya setelah dipastikan memerankan Rubeus Hagrid dalam serial Harry Potter produksi HBO. Bagi pria berusia 54 tahun itu, tawaran bermain sebagai satwa raksasa berhati lembut tersebut terasa seperti memenangkan lotere.
Dalam wawancara dengan Sunday Times' Culture, Frost menceritakan kebahagiaannya yang meluap-luap. "Saya bangun tengah malam untuk ke kamar mandi, lalu kembali ke tempat tidur sambil tiba-tiba berseru, 'Kamu Hagrid, sialan!'" ujarnya. Ia mengaku sudah memendam keinginan kuat untuk mendapatkan peran itu hingga melakukan ritual menulis kata 'Hagrid' sebanyak 8.000 kali sebagai bentuk manifestasi. Namun, ia tertawa mengakui bahwa 2.000 tulisan terakhirnya justru salah eja menjadi 'Hadrig' karena disleksia yang dideritanya.
Frost menyadari bahwa ia mengemban tanggung jawab besar menggantikan mendiang Robbie Coltrane, yang sebelumnya memerankan Hagrid dalam delapan film Harry Potter. Ia berusaha menghormati warisan Coltrane, tetapi juga ingin memberikan dimensi baru pada karakter tersebut. "Robbie punya waktu dua setengah jam per film. Saya punya delapan jam per musim. Pasti ada lebih banyak sisi yang bisa digali," jelas Frost. Ia membayangkan Hagrid versinya berasal dari Bristol, lebih pendiam, dan sedikit lebih kalem. "Pasti ada yang tidak suka. Mereka akan bilang, 'Ini bukan Hagrid-ku.' Dan itu tidak apa-apa," tambahnya.
Frost juga tak gentar menghadapi kontroversi seputar penulis J.K. Rowling yang kerap dikritik karena pandangan gender-kritisnya. "Saya tidak bisa mengontrol semua itu. Saya hanya tahu apa yang saya rasakan, dan saya tidak perlu menjelaskannya kepada siapa pun," tegasnya. Sikap ini menunjukkan bahwa ia lebih fokus pada pekerjaan dan integritas artistiknya.
Untuk menghidupkan Hagrid, Frost mengambil inspirasi dari pamannya, Emy, yang terkena demam berdarah di usia 10 tahun pada 1950-an dan "tidak pernah tumbuh dewasa sejak saat itu". Ia juga mencontoh karakter John Coffey dalam The Green Mile yang diperankan Michael Clarke Duncan—sosok besar, keras, namun kekanak-kanakan. Perpaduan ini diharapkan memberikan nuansa baru pada Hagrid yang lebih kompleks.
Meskipun jadwal syuting serial Harry Potter cukup padat—dengan komitmen delapan tahun ke depan—Frost meyakinkan rekan-rekannya, Simon Pegg dan Edgar Wright, bahwa ia masih punya waktu untuk berkolaborasi dalam proyek mendatang. "Saya punya libur setiap musim panas selama delapan tahun ke depan, jadi saya pasti punya sepuluh minggu kosong," candanya. Pertanyaan besarnya kini: akankah penggemar di Indonesia, yang juga sangat antusias menyambut serial ini, menerima interpretasi baru Hagrid versi Frost?



