Bungie Sempat Rintis Destiny Dating Sim, Manajemen Tolak Keras
Baca dalam 60 detik
- Mantan community manager Bungie mengungkap tim pengembang sempat membuat prototipe dating simulator bertema Destiny.
- Proyek yang terinspirasi Dream Daddy ini sudah memiliki proposal bisnis lengkap, namun ditolak manajemen karena dianggap tidak serius.
- Kisah ini mencuat setelah Destiny 2 menyelesaikan saga utamanya, membuka tabir proyek-proyek ambisius yang batal terealisasi.

Bungie, pengembang gim legendaris di balik seri Destiny, ternyata pernah memiliki proyek rahasia yang tak terduga: sebuah gim kencan (dating simulator) berlatar alam semesta Destiny. Pengungkapan ini datang dari Liana Ruppert, mantan community manager Bungie, yang membagikan cerita di platform X pada akhir Juni 2026. Menurutnya, tim pengembang telah menyusun proposal lengkap—lengkap dengan proyeksi biaya dan metrik profitabilitas—untuk gim yang terinspirasi dari Dream Daddy, sebuah dating simulator populer bergaya komedi.
Proyek ini lahir dari acara tahunan internal Bungie yang disebut "hack week" atau "game jam," di mana para pengembang diberi kebebasan untuk membuat prototipe apa pun yang mereka inginkan. Ruppert menyebut bahwa timnya benar-benar berhasil membuat versi awal gim tersebut. Namun, ambisi itu kandas di meja manajemen puncak. "Kepemimpinan memberikan 'Hard No' yang tegas—mereka tidak ingin ada unsur romansa atau kekonyolan dalam waralaba Destiny," tulis Ruppert di akunnya @DirtyEffinHippy.
Keputusan Bungie untuk mematikan proyek ini menyoroti perdebatan klasik dalam industri gim: sejauh mana pengembang boleh bereksperimen di luar identitas inti waralaba? Destiny dikenal sebagai gim tembak-menembak (first-person shooter) dengan narasi epik dan mekanisme multiplayer yang serius. Menambahkan elemen dating simulator—yang biasanya ringan, humoris, dan berfokus pada interaksi karakter—dianggap berisiko mengaburkan citra merek yang sudah mapan. Apalagi, Bungie saat itu tengah fokus menyelesaikan saga Destiny 2 yang baru saja berakhir pada 2024.
Bagi penggemar Destiny di Indonesia, kabar ini mungkin menimbulkan rasa penasaran. Gim kencan bertema Destiny bisa menjadi pintu masuk bagi pemain kasual yang selama ini merasa asing dengan mekanisme tembak-menembak yang kompleks. Namun, keputusan Bungie juga bisa dipahami: menjaga konsistensi merek adalah prioritas, terutama ketika waralaba sedang dalam masa transisi menuju proyek baru. Seperti diketahui, Bungie kini tengah mengembangkan gim baru bermerek Marathon, yang dijadwalkan rilis pada 2025.
Kisah ini juga mengingatkan bahwa di balik layar, studio gim besar kerap menyimpan proyek-proyek eksentrik yang tak pernah dirilis. Beberapa di antaranya justru menjadi legenda di kalangan penggemar, seperti Star Fox 2 yang akhirnya dirilis puluhan tahun kemudian, atau Half-Life 2: Episode Three yang tak kunjung muncul. Akankah suatu hari nanti Bungie melunakkan sikapnya dan merilis dating simulator Destiny sebagai konten nostalgia? Ataukah proyek ini akan selamanya menjadi cerita rahasia yang hanya dikenang oleh para pengembangnya?



